Kondisi
SDM (Sunber Daya Manusia) Umat Islam Saparua yang sangat rendah, bahkan hampir
tidak ada dikala itu dimanfaatkan Belanda dan kawan-kawannya untuk memanipulasi
peran umat Islam dalam menentang Belanda, seperti:
1.
Nama Ahmad Lussy (Panglima perang Pattimura); yang beragama Islam diganti
dengan Thomas Matulessy yang Kristen.
2. Gelar
Pattimura; yang mestinya pemberian rakyat
yang tertindas kepada semua Komandan / Pemimpin perang dalam menentang
Belanda di Saparua, dikatakan bahwa gelar Pattimura adalah pemberian Belanda
kepada Thomas Matulessy. Bahkan masalah Kristenisasi yang memicu perang melawan
Portugis dan Belanda tidak pernah disinggung samasekali oleh para penulis
sejarah Pattimura yang notabenenya beragama Nasrani. Jelas ini merupakan
manipulasi / pemutarbalikan sejarah, tapi bagaimana
juapun, cepat atau lambat semua itu pasti terungkap juga.
Di sini
penulis akan meluruskan dua masalah tersebut:
Pertama;
Nama Thomas Matulessy; yang betul Thomas Mad Lussy bukan Thomas Matulessy. Kemungkinan sudah mengikuti lidah orang Balanda, Mad Lussy menjadi Matulessy seperti Sapanorua menjadi Saparua, atau salah pengertian terhadap kata-kata yang diucapkan oleh penduduk Siri Sori Islam di saat unjuk rasa ketika Ahmad Lussy di tangkap di desa mereka “Mad-U-lesia” kemudian dirubah menjadi “Matulessy”. Sedangkan nama “Thomas” adalah panggilan terhadap perwira Inggris, karena Ahmad Lussy adalah mantan perwira Inggris ketika pemerintah Inggris berada di Indonesi (1811 – 1816 M) sehingga beliau juga sering dipanggil dengan Thomas Mad Lussy, oleh Belanda dirubah menjadi Thomas Matulessy kemudian ditambah agama Kristen. Perubahan semacam itu tidak hanya terjadi pada Ahmad Lussy saja, tetapi juga terjadi pada diri Srikandi Maluku asal Saparua, dari negeri Kulur, Maryam Tutupoho, namanya diganti dengan Kristina Martatiahahu. Sedih, memang sungguh sedih dengan pemutarbalikan sejarah seperti itu. Arwah keduanya tidak rela dengan dimurtadkan nama mereka setelah berpulang ke hadirat Penciptanya, Tuhan Yang Maha Kuasa. Sayangnya data-data lengkap yang otentik sudah musnah dilalap api ketika kaki tangan Belanda / RMS menyerang dan membumi hanguskan negeri Kulur di Saparua dan Latu di Seram Selatan sekitar tahun 1950-an. Ini adalah usaha Belanda dan kaki tangannya untuk menghilangkan jejak perjuangan umat Islam dalam menentang Belanda di Saparua khususnya dan di Maluku pada umumnya. Sehingga seakanakan perang pada tahun 1817 di Saparuan adalah perang orang Kristen Saparua melawan para penyebar agama Kristen dari Belanda. Padahal, sejarah telah mencatat bahwa kedatangan bangsa-bangsa Eropa kesini adalah didorong oleh disamping untuk mencari kekayaan dan kejayaan / kekuasaan juga mengembang tugas suci menyiarkan agama Nasrani yang dikenal dengan istilah 3G yaitu Gold, Glory dan Gospel. Jadi tidak mungkin Tomas Matulesy dari negeri / desa Haria dan Kristina Martatiahahu dari Nusalaut mengangkat senjata menentang kebijaksanaan saudaranya yang seagama dari Belanda, sebab mereka sampai menjadi penganut agama Kristen yang setia dan taat adalah hasil dari dakwah para misionaris Kristen Belanda lagi pula kesejahteraan mereka selalu diperhatikan, diberi pekerjaan, kedudukan dan jabatan, mereka selalu dimanja dan dianak maskan.
Nama Thomas Matulessy; yang betul Thomas Mad Lussy bukan Thomas Matulessy. Kemungkinan sudah mengikuti lidah orang Balanda, Mad Lussy menjadi Matulessy seperti Sapanorua menjadi Saparua, atau salah pengertian terhadap kata-kata yang diucapkan oleh penduduk Siri Sori Islam di saat unjuk rasa ketika Ahmad Lussy di tangkap di desa mereka “Mad-U-lesia” kemudian dirubah menjadi “Matulessy”. Sedangkan nama “Thomas” adalah panggilan terhadap perwira Inggris, karena Ahmad Lussy adalah mantan perwira Inggris ketika pemerintah Inggris berada di Indonesi (1811 – 1816 M) sehingga beliau juga sering dipanggil dengan Thomas Mad Lussy, oleh Belanda dirubah menjadi Thomas Matulessy kemudian ditambah agama Kristen. Perubahan semacam itu tidak hanya terjadi pada Ahmad Lussy saja, tetapi juga terjadi pada diri Srikandi Maluku asal Saparua, dari negeri Kulur, Maryam Tutupoho, namanya diganti dengan Kristina Martatiahahu. Sedih, memang sungguh sedih dengan pemutarbalikan sejarah seperti itu. Arwah keduanya tidak rela dengan dimurtadkan nama mereka setelah berpulang ke hadirat Penciptanya, Tuhan Yang Maha Kuasa. Sayangnya data-data lengkap yang otentik sudah musnah dilalap api ketika kaki tangan Belanda / RMS menyerang dan membumi hanguskan negeri Kulur di Saparua dan Latu di Seram Selatan sekitar tahun 1950-an. Ini adalah usaha Belanda dan kaki tangannya untuk menghilangkan jejak perjuangan umat Islam dalam menentang Belanda di Saparua khususnya dan di Maluku pada umumnya. Sehingga seakanakan perang pada tahun 1817 di Saparuan adalah perang orang Kristen Saparua melawan para penyebar agama Kristen dari Belanda. Padahal, sejarah telah mencatat bahwa kedatangan bangsa-bangsa Eropa kesini adalah didorong oleh disamping untuk mencari kekayaan dan kejayaan / kekuasaan juga mengembang tugas suci menyiarkan agama Nasrani yang dikenal dengan istilah 3G yaitu Gold, Glory dan Gospel. Jadi tidak mungkin Tomas Matulesy dari negeri / desa Haria dan Kristina Martatiahahu dari Nusalaut mengangkat senjata menentang kebijaksanaan saudaranya yang seagama dari Belanda, sebab mereka sampai menjadi penganut agama Kristen yang setia dan taat adalah hasil dari dakwah para misionaris Kristen Belanda lagi pula kesejahteraan mereka selalu diperhatikan, diberi pekerjaan, kedudukan dan jabatan, mereka selalu dimanja dan dianak maskan.
Jadi bagaimana bisa orang Kristen melawan belanda
sementara mereka mendapat agama Kristen dari Belanda mereka sama sama di gereja dengan pendeta /
pastor orang Belanda, di didik oleh Belanda, mendapat pekerjaan dari Belanda. Sedangkan orang Islam dikejar-kejar, disiksa
dan dipaksa untuk meninggalkan Aqidah mereka ?
Kedua; Gelar Pattimura; Untuk mengetahui apakah gelar Pattimura itu pemberian Belanda atau bukan,
hendaknya lebih dahulu kita tahu arti Pattimura.
Ada dua
pengertian dari Kata Pattimura.
Yang pertama; kata
Pattimura terdiri dari dua kata
yaitu “Patti” yang artinya “Pemimpin” dan “Mura” artinya baik hati. Jadi Pattimura
artinya Pemimpim yang baik hati. Gelar yang sangat mulia itu tidak mungkin diberikan
kepada orang yang dituduh / dijuluki extrimis. Jadi tidak mungkin Belanda memberikan gelar “Pattimura” kepada Thomas Mad Lussy (bukan Thomas Matulessy) Tapi beliau memperolehnya dari
umat Islam Saparua yang tertindas. Gelar yang sangat mulia itu, tidak hanya
diberikan kepada Ahmad Lussy, tetapi juga kepada pemimpim yang lain seperti Sarasa
Sanaky Tepasiwa (Sayyid Perintah) dari Siri Sori Islam dan pemimpin
lainnya. Sebagaimana yang terungkap dalam kapata atau nyanyian
adat berikut ini :
Oiye – oiye, sina oiye,
WALANDA –e- Waisisi lo, sina oiye.
Kapitano PaTtimura WEhe
Tepasiwa-wo,
yami leY-e - Walanda hoka SapanoRua-wo
Artinya :
Maju, ayo
maju, mari kita maju, orang Balanda ada
di Waisisil (di hujung Barat kota Saparua), ayo kita maju. Kapitan Pattimura Tepasiwa (Sayyid Perintah) sudah ada,
mari kita husir orang Belanda keluar dari Saparua.
Nyanyian adat tersebut, digunakan oleh para pejuang
ketika itu untuk menggugah dan membangkitkan
semangat perjuang melawan Belanda di tahun 1817. Dan nyanyian tersebut menunjukkan bahwa gelar Pattimura
adalah pemberian rakyat kepada semua pemimpin perang, dengan demikian jumlah
Pattimura sangat banyak sebanyak pemimpim perang ketika itu. Semua negeri /
desa Islam punya pemimpin perang maka semuanya memiliki beberapa orang
Pattimura. Di pulau Haruku Pattimuranya dari marga / fam Tuasikal dari
negeri Pelawu yang oleh masyarakat Pelawu menyebutnya dengan “Matuwa-lessy”
(orang tua dari marga Tuasikal), di pulau Ambon Pattimuranya bernama Umar
Lesy dari desa Liang, di Siri Sori Islam, Pattimuranya
adalah Sarasa Sanaky Tepasiwa (Sayyid Perinta), di Kulur Pattimuranya
adalah seorang wanita Mariyam
Tutupoho namanya dan masi banyak lagi Pattimura- Pattimura
lainnya.
Pattimura-Pattimura yang tersebar di semua negeri / desa itu, di bawah
komando satu Pattimura yaitu Pattimura Kapten Ahmad Lussy alias Thomas Mad
Lussy dari negeri Latu Seram Selatan, (sekali lagi bukan Thomas Matulessy dari
negeri Haria).
Yang kedua; kata “Pattimura” juga berasal dari kata “Patti-Mula”
artinya “pemimpin pertama” oleh orang Belanda menyebutnya Pattimura karena mereka tidak dapat membedakan antara kata Patti Mula
dan Patti Mura. Gelar yang kedua ini diberikan rakyat Saparua, Haruku, Seram
dan Ambon, khusus kepada Ahmad Lussy tidak kepada yang lain karena beliau
dianggap sebagai orang pertama yang memimpin kelompok-kelompok pejuang yang
datang dari beberapa daerah untuk mengadakan perlawanan terhadap Belanda di th.
1817. Sehingga beliau mendapat dua gelar sekaligus yakni gelar Pattimula dan
Pattimura, gelar tersebut tetap dipertahankan dan dijadikan sebagai fam / marga
oleh anak cucunya sampai sekarang.
Demikian sejarah singkat perjuangan umat Islam menentang kolonial untuk
mempertahankan aqidah Islamiyah di pulau Saparua.
Akhirnya,
kepada umat Islam yang ada di Ambon, Haruku, Saparua dan Seram, yang leluhur
mereka terlibat dalam perang melawan Belanda
di tahun 1817, agar tidak ragu-ragu
atau takut untuk menceriterakan peran mereka dalam menentang
Kolonial untuk mempertahankan Aqidah Islamiyah di Saparua khususnya dan di Maluku pada umumnya yang
selama ini disembunyikan dan diselewengkan oleh Belanda dan kakitangannya.
Sumpah yang pernah diucapkan oleh
para leluhur kita untuk tidak menceriterakan identitas para pejuang di thn 1817
kepada orang yang tidak ada hubungan dara dengannya dan orang-orang yang dicurigai kerja sama dengan Belanda, sudah
tidak berlaku sejak Belanda dan kaki tangannya kehilangan kekuasa di bumi
Nusantara ini.
Makasih untuk infonya. Ternyata gelar Pattimura bukan hanya milik satu orang. Jadi, ada betulnya juga banyak yang mengklaim Pattimura asalnya dari Latu, Pelauw maupun Siri Sori Islam. Makasih.
BalasHapusKebenaran tetap kebenaran,ALLAH AKHBAR,ALLAH AKHBAR,ALLAH AKHBAR
BalasHapusMakasi om.
BalasHapusMohon referensinya sebagai bahan belajar.
suatu saat kebenaran pasti akan muncul di bumi maluku, mengingat keduanya adalah pahlawan yang selama ini belum jelas keberadaannya... semoga kebenaran cepat muncul di bumi maluku...
BalasHapus