Popular Posts

Rabu, 22 Januari 2014

Filled Under:

PECAHNYA PERANG TAHUN 1817 DI SAPARUA

Para mujahidin sedang berdoa secara Islam setelah merebut
benteng durstede


Praktek Kristenisasi yang dijalankan Balanda di Saparua sampai tahun 1817, sangat dirasakan oleh seorang Ulama, penyiar agama Islam di wilayah Seram Selatan dan Saparua, mantan perwira angkatan perang Inggeris dengan pangkat Kapten, putra Latu yang lebih dikenal dengan panggilan Mad Lussy, nama lengkapnya  Ahmad Lussy  yang pada saat  itu berada di Latu, Seram Selatan. Beliau menerima informasi mengenai perkembangan Kristenisasi tersebut dari seorang teman yang berasal dari desa Titawai pulau Nusalaut, bermukim di Saparua, Thomas Hehanusa namanya,kemudian diganti dengan Sinene Hehanusa setelah menjadi seorang muslim lalu hijrah ke Latu untuk berjihad melawan Belanda dan mendapat gelar kapitan Latuleanusa. Beliau (Thomas Hehanusa) juga menginformasikan kristenisasi di Saparua kepada Umar Lesy di pulau Ambon dan Matualesy di pulau Haruku.

Demi mempertahankan aqidah Islamiyah di bumi Saparua, Umar Lesy, Matualesy dan Ahmad Lussy mengumpulkan kekuatan pasukan di daerah masing-masing agar segera mengadakan penyeberangan ke Saparua untuk bergabung dengan para mujahid di pulau tersebut guna mengadakan perlawanan terhadap Belanda demi mempertahankan Aqidah Islam di Bumi Saparua.

Pasukan dari Ambon dan Haruku masuk pulau Saparua melalui hutan Porto, di sana mereka menghancurkan sebuah pos Belanda yang ada ditempat itu kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kota Saparua melewati Waisisil, sedangkan pasukan yang dipimpin Ahmad Lussy menyeberang ke Saparua melalui pantai Kohu yang terletak di dusun Pia sekarang. Dari Kohu mereka (Ahmad Lussy bersama pasukan) menuju Kota Saparua melalui gunung Saniri. Di gunung ini sekitar jam 12.30 waktu setempat, mereka merebut sebuah pos Belanda, penjaganya dibunuh kemudian dicincang-cincang, karenanya gunung tersebut dinamakan gunung Farkadel (peristiwa itu terjadi pada hari Rabu 14 Mei 1817 M bertepatan dengan 27 Jumadil Akhir 1232 H). Ahmad Lussy bersama pasukan meneruskan perjalanan menuju Kota Saparua yang ketika itu menjadi pusat pertahanan Belanda. Sesampainya di sana, pasukan Ahmad Lussy, Umar Lesy dan Matualesy segera bergabung untuk mengadakan pertemuan dengan kelompok  mujahidin setempat pimpinan Sarasa Sanaky Tepasiwa yang dikenal dengan panggilan “Sayyid Perintah” = tuan pemimpin (karena beliau adalah satu satunya pemimpin yang memerintah pasukan untuk menyerang pertahanan Belanda dari arah Siri Sori Islam). Dalam pertemuan tersebut mereka sepakat untuk mengadakan serangan kepusat kekuasaan Kolonial Belanda di Benteng Duurstede pada hari Jum’at 16 Mei 1817 M / 29 Jumadil Akhir 1232 H, serta menunjuk Ahmad Lussy sebagai panglima  perang. Maka  dengan pengalaman beliau sebagai mantan Perwira Angkatan Perang Tentara Inggris, seusai shalat Jum’at memimpin pasukan untuk segera mengepung dan menyerang pertahanan Belanda. Setelah benteng terkepung, Ahmad Lussy masuk ke dalam benteng dengan cara memanjat tembok benteng pojok Selatan (arah pantai), setelah berhasil masuk, segera membuka pintu gerbang, maka dengan ucapan kalimat Takbir “ALLAHU AKBAR” serta memiliki semangat jihat yang tinggi ditambah dengan rasa bencinya terhadap Belanda, para pejuang serentak menyerbu benteng pertahanan Belanda dan membunuh semua tentara Belanda yang diperkirakan sekitar 30 orang termasuk Residen Van den Berg yang ketika itu berada dalam Benteng kecuali seorang anak perempuan yang masih berusia sekitar 8 tahun, dibiarkan hidup.

Peristiwa penyerbuan tersebut membuat Belanda menjadi kacau, maka untuk menghentikan perlawanan, Belanda mendatangkan bantuan dari Ambon dan Jakarta untuk mematahkan perlawanan rakyat dan memblokir semua jalur masuk ke Saparua, akhirnya  pada  bulan  Agustus  1817  M / Syawal 1232 H,  benteng  Durstede di  Saparua dapat direbut kembali oleh Belanda. Dengan demikian  Belanda  menjadi  makin  kuat dan pada bulan Oktober 1817 M / Dzulhijjah 1232 H pasukan Belanda secara besar-besaran menyerbu pertahanan para pejuang, sehingga mereka semakin terdesak, akibatnya banyak pejuang yang tertangkap dan terbunuh sedangkan Ahmad Lussy dan Sarasa Sanaky Tepasiwa (Sayyid Perinta) dapat meloloskan diri dan bersembunyi di beberapa negeri (bukan di puncak gunung Booi) di Saparua dengan cara berpindah-pindah. Untuk menghilangkan jejak, mereka sering berganti-ganti nama dan fam serta mengaku sebagai warga negeri / desa dimana mereka bersembunyi. Namun karena penghianatan raja Booi (Kristen) dan tipu muslihat Belanda akhirnya Ahmad Lussy tertangkap ketika bersembunyi di Siri Sori Islam (sekali lagi bukan di puncak gunung Booi). Sedangkan Sarasa (Sayyid Perinta) dapat meloloskan diri  (ia meninggal dunia di Siri Sori Islam karena sakit dan dikuburkan di dusun Salaiku pada th 1825).
Sebagai rasa tidak setuju atas penangkapan Ahmad Lussy, penduduk Siri Sori Islam secara
serentak turun kejalan, unjuk rasa, protes terhadap Belanda sambil berteriak “Mad-U-lesia, Mad-U-lesia, Mad-U-lesia”. Kalimat ini memiliki dua arti yaitu “bersama Mad kita pasti menang” dan bisa juga berarti “Mad, hancurkan mereka (orang Belanda)”. Ahmad Lussy dibawa ke Saparua kemudian pada hari Kamis 18 November 1817 M / 24 Muharam 1233 H diangkut ke Ambon bersama pejuang lainnya, dengan kapal Evertsen dan tiba di Ambon pada hari Ahad 21 November 1817 M / 27 Muharam 1233 H. Kemudian pada Selasa 23 November 1817, bertepatan dengan 29 Muharam 1233 H, Komisaris Jenderal untuk Hindia Belanda, pada waktu itu ialah Schout bij Nacht Arnold Adriaans Buyskes, mengeluarkan surat keputusan untuk menyerahkan Para pejuang yang telah tertangkap kehadapan Raad van Justitie, pengadilan Belanda di Ambon dan divonis Hukum mati oleh Raad van Justitie. Eksekusi dilaksanakan pada hari Selasa, 16 Desember 1817 M /  6 Safar 1233 H, dan Ahmad Lussy bersam kawan-kawannya gugur sebagai syuhada. Semoga arwah mereka diterima disisi Yang Maha Kuasa.  Amin.
Tertangkapnya Ahmad Lussy bersama kawan-kawannya, membuat Belanda makin meningkatkan tindakan keras. Intimidasi serta praktek Kristenisasi
terhadap umat Islam lebih gencar lagi. Akibatnya mengalami penderitaan yang luar biasa. Bukan hanya lahir saja yang menderita tetapi batinpun dibuat menderita pula. Sedangkan mereka yang berhasil dipengaruhi / dimurtadkan mendapat perlakuan yang sangat istimewa, diberi kedudukan dan jabatan serta pasilitas pendidikan yang memadai untuk meningkatkan pendidikan mereka.
Semua sarana pendidikkan berada di koloni Kristen.
Perlakuan semacam itu tidak pernah diperoleh umat Islam pada masa itu karena umat Islam tidak bisa diajak kerja sama. Situasi seperti itu berjalan terus sampai adanya perubahan polotik di Negeri Belanda yaitu golongan Konservatif yang selama ini menguasai pemerintahan serta kebijaksanaannya yang selalu menyengsarakan penduduk negara jajahannya, mengalami kekalahan dari golongan Liberal. Golongan yang menang inilah yang memberi kebebasan bagi pendudk negeri jajahan dalam segala bidang termasuk bidang pendidikan. Kebijakan tersebut dikenal dengan Politik Etis / Politik Balas budi. Politik tersebut dilaksanakan oleh Indenburg sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, (namun tetap menguntungkan Belanda). Maka mulai saat itu anak-anak orang Islam Saparua untuk pertamakalinya diterima sebagai siswa sekolah-sekolah umum milik pemerintah Belanda namun hanya terbatas bagi anak-anak raja dan anak-anak orang yang dapat diajak kerja sama dengan Belanda. Maka tidak heran di awal kemerdekaan Indonesia sumber daya manusia (SDM) umat Islam Saparua sangat rendah. Umat Islam ketika itu yang dapat membaca dan menulis huruf latin diperkirakan tidak lebih dari 0,02 % saja,  75 % dari mereka yang dapat membaca huruf latin itu hanya lulusan Volks School (SR 3 th,) sedangkan 20 % lulusan HIS = Hollands Inlandsche School (Sekolah Dasar 6 th.) dan yang 5% lagi lulusan MULO (SMP).

Tenaga pendidik di sekolah-sekolah umum mulai dari Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Lanjutan Atas di awal kemerdekaan, adalah mereka yang beragama Nasrani, bahkan Universitas Pattimura satu satunya Universitas milik pemerintah
di Kota Ambon, tenaga pengajarnya didominasi oleh mereka yang beragama Nasrani karena merekalah yang memiliki SDM (Sumber Daya Manusia) yang memadai yang merupakan warisan pembinaan Kolonial Belanda


1 komentar:

Copyright @ 2013 GURU AGAMA ISLAM .