Para mujahidin
sedang berdoa secara Islam setelah merebut
benteng durstede
Praktek Kristenisasi yang dijalankan Balanda di Saparua
sampai tahun 1817, sangat dirasakan oleh seorang Ulama, penyiar agama Islam di
wilayah Seram Selatan dan Saparua, mantan perwira angkatan perang Inggeris
dengan pangkat Kapten, putra Latu yang lebih dikenal dengan panggilan Mad Lussy, nama lengkapnya Ahmad
Lussy yang pada saat itu berada di Latu, Seram Selatan. Beliau
menerima informasi mengenai perkembangan Kristenisasi tersebut dari seorang teman
yang berasal dari desa Titawai pulau Nusalaut, bermukim di Saparua, Thomas Hehanusa namanya,kemudian
diganti dengan Sinene Hehanusa
setelah menjadi seorang muslim lalu hijrah ke Latu untuk berjihad melawan
Belanda dan mendapat gelar kapitan Latuleanusa. Beliau (Thomas Hehanusa) juga
menginformasikan kristenisasi di Saparua kepada Umar Lesy di pulau Ambon dan Matualesy di pulau Haruku.
Demi mempertahankan aqidah Islamiyah di bumi Saparua, Umar Lesy,
Matualesy dan Ahmad Lussy mengumpulkan kekuatan pasukan di daerah masing-masing
agar segera mengadakan penyeberangan ke Saparua untuk bergabung dengan para
mujahid di pulau tersebut guna mengadakan perlawanan terhadap Belanda demi
mempertahankan Aqidah Islam di Bumi Saparua.
Pasukan dari Ambon dan Haruku masuk pulau Saparua melalui
hutan Porto, di sana mereka menghancurkan sebuah pos Belanda yang ada
ditempat itu kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kota Saparua melewati
Waisisil, sedangkan pasukan yang dipimpin Ahmad Lussy menyeberang ke Saparua
melalui pantai Kohu yang terletak di dusun Pia sekarang. Dari Kohu mereka (Ahmad Lussy bersama pasukan) menuju
Kota Saparua melalui gunung Saniri. Di gunung ini sekitar jam 12.30
waktu setempat, mereka merebut sebuah pos Belanda, penjaganya dibunuh kemudian
dicincang-cincang, karenanya gunung tersebut dinamakan gunung Farkadel (peristiwa
itu terjadi pada hari Rabu 14 Mei 1817 M bertepatan dengan 27 Jumadil Akhir 1232 H). Ahmad
Lussy bersama pasukan meneruskan perjalanan menuju Kota Saparua yang ketika itu
menjadi pusat pertahanan Belanda. Sesampainya di sana, pasukan Ahmad Lussy,
Umar Lesy dan Matualesy segera bergabung untuk mengadakan pertemuan dengan
kelompok mujahidin setempat pimpinan Sarasa Sanaky Tepasiwa yang dikenal dengan panggilan “Sayyid Perintah” = tuan pemimpin (karena beliau adalah satu
satunya pemimpin yang memerintah pasukan untuk menyerang pertahanan Belanda
dari arah Siri Sori Islam). Dalam pertemuan tersebut mereka sepakat untuk mengadakan
serangan kepusat kekuasaan Kolonial Belanda di Benteng Duurstede pada hari Jum’at 16 Mei 1817 M / 29 Jumadil
Akhir 1232 H, serta menunjuk Ahmad Lussy sebagai panglima perang. Maka dengan pengalaman beliau sebagai mantan Perwira Angkatan Perang Tentara
Inggris, seusai shalat Jum’at memimpin pasukan untuk segera mengepung dan
menyerang pertahanan Belanda. Setelah benteng
terkepung, Ahmad Lussy masuk ke dalam benteng dengan cara memanjat tembok
benteng pojok Selatan (arah pantai), setelah berhasil masuk, segera membuka
pintu gerbang, maka dengan ucapan kalimat Takbir “ALLAHU AKBAR”
serta memiliki semangat jihat yang tinggi ditambah dengan rasa bencinya
terhadap Belanda, para pejuang serentak menyerbu benteng pertahanan Belanda dan
membunuh semua tentara Belanda yang diperkirakan sekitar 30 orang termasuk Residen Van den Berg yang ketika itu berada
dalam Benteng kecuali seorang anak perempuan yang masih berusia sekitar 8
tahun, dibiarkan hidup.
Peristiwa penyerbuan tersebut membuat Belanda menjadi kacau, maka untuk
menghentikan perlawanan, Belanda mendatangkan bantuan dari Ambon dan Jakarta untuk mematahkan
perlawanan rakyat dan memblokir semua jalur masuk ke Saparua, akhirnya pada bulan Agustus 1817 M
/ Syawal 1232 H, benteng Durstede di
Saparua dapat direbut kembali oleh Belanda. Dengan demikian Belanda
menjadi makin kuat dan pada bulan Oktober 1817 M /
Dzulhijjah 1232 H pasukan Belanda secara besar-besaran menyerbu
pertahanan para pejuang, sehingga mereka semakin terdesak, akibatnya banyak
pejuang yang tertangkap dan terbunuh sedangkan Ahmad Lussy dan Sarasa Sanaky
Tepasiwa (Sayyid Perinta) dapat meloloskan diri dan bersembunyi di beberapa
negeri (bukan di puncak gunung Booi) di Saparua dengan cara berpindah-pindah.
Untuk menghilangkan jejak, mereka sering berganti-ganti nama dan fam serta mengaku sebagai warga
negeri / desa dimana mereka bersembunyi. Namun karena penghianatan raja Booi
(Kristen) dan tipu muslihat Belanda akhirnya Ahmad Lussy tertangkap ketika
bersembunyi di Siri Sori Islam (sekali lagi bukan di puncak gunung Booi).
Sedangkan Sarasa (Sayyid Perinta) dapat meloloskan diri (ia meninggal dunia di Siri Sori Islam karena
sakit dan dikuburkan di dusun Salaiku pada th 1825).
Sebagai rasa tidak setuju atas penangkapan Ahmad
Lussy, penduduk Siri Sori Islam secara
serentak turun kejalan, unjuk rasa, protes terhadap
Belanda sambil berteriak “Mad-U-lesia,
Mad-U-lesia, Mad-U-lesia”. Kalimat ini
memiliki dua arti yaitu “bersama Mad
kita pasti menang” dan bisa juga berarti “Mad, hancurkan mereka (orang Belanda)”. Ahmad Lussy dibawa ke
Saparua kemudian pada hari Kamis 18
November 1817 M / 24 Muharam 1233 H diangkut ke Ambon bersama pejuang
lainnya, dengan kapal Evertsen dan tiba di Ambon pada hari Ahad 21 November
1817 M / 27 Muharam 1233 H. Kemudian pada Selasa 23 November 1817, bertepatan
dengan 29 Muharam 1233 H, Komisaris Jenderal untuk Hindia Belanda, pada waktu
itu ialah Schout bij Nacht Arnold Adriaans Buyskes, mengeluarkan surat
keputusan untuk menyerahkan Para pejuang yang telah tertangkap kehadapan Raad
van Justitie, pengadilan Belanda di Ambon dan divonis Hukum mati oleh Raad van
Justitie. Eksekusi dilaksanakan pada hari Selasa, 16 Desember 1817 M / 6 Safar 1233
H, dan Ahmad Lussy bersam kawan-kawannya gugur sebagai syuhada. Semoga
arwah mereka diterima disisi Yang Maha Kuasa.
Amin.
Tertangkapnya
Ahmad Lussy bersama kawan-kawannya, membuat Belanda makin meningkatkan tindakan
keras. Intimidasi serta praktek Kristenisasi
terhadap umat Islam lebih gencar lagi. Akibatnya
mengalami penderitaan yang luar biasa. Bukan hanya lahir saja yang menderita
tetapi batinpun dibuat menderita pula. Sedangkan mereka yang berhasil
dipengaruhi / dimurtadkan mendapat perlakuan yang sangat istimewa, diberi
kedudukan dan jabatan serta pasilitas pendidikan yang memadai untuk
meningkatkan pendidikan mereka.
Semua sarana pendidikkan
berada di koloni Kristen.
Perlakuan semacam itu tidak pernah diperoleh umat Islam
pada masa itu karena umat Islam tidak bisa diajak kerja sama. Situasi
seperti itu berjalan terus sampai adanya perubahan polotik di Negeri Belanda
yaitu golongan Konservatif yang selama ini menguasai pemerintahan serta
kebijaksanaannya yang selalu menyengsarakan penduduk negara jajahannya, mengalami
kekalahan dari golongan Liberal. Golongan yang menang inilah yang memberi
kebebasan bagi pendudk negeri jajahan dalam segala bidang termasuk bidang
pendidikan. Kebijakan tersebut dikenal dengan Politik Etis / Politik Balas
budi. Politik tersebut dilaksanakan oleh Indenburg sebagai Gubernur
Jenderal Hindia Belanda, (namun tetap menguntungkan Belanda). Maka mulai saat
itu anak-anak orang Islam Saparua untuk pertamakalinya diterima sebagai siswa
sekolah-sekolah umum milik pemerintah Belanda namun hanya terbatas bagi
anak-anak raja dan anak-anak orang yang dapat diajak kerja sama dengan Belanda.
Maka tidak heran di awal kemerdekaan Indonesia sumber daya manusia (SDM) umat
Islam Saparua sangat rendah. Umat Islam ketika itu yang dapat membaca dan menulis
huruf latin diperkirakan tidak lebih dari 0,02 % saja, 75 % dari mereka yang dapat membaca huruf
latin itu hanya lulusan Volks School (SR 3 th,) sedangkan 20 % lulusan HIS =
Hollands Inlandsche School (Sekolah Dasar 6 th.) dan yang 5% lagi lulusan MULO
(SMP).
Tenaga pendidik di sekolah-sekolah umum mulai dari
Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Lanjutan Atas di awal kemerdekaan, adalah
mereka yang beragama Nasrani, bahkan Universitas Pattimura satu satunya
Universitas milik pemerintah
di Kota Ambon, tenaga pengajarnya didominasi oleh mereka
yang beragama Nasrani karena merekalah yang memiliki SDM (Sumber Daya Manusia)
yang memadai yang merupakan warisan pembinaan Kolonial Belanda

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus