Sejarah merupakan catatan
peristiwa penting masa silam yang harus diinformasikan kepada masyarakat secara
akurat. Penulis sebagai orang yang berasal dari Saparua akan mengungkapkan secara
singkat “Sejarah perjuangan umat Islam Saparua” yang oleh mayoritas bangsa ini
belum mengetahuinya karena belum / tidak ada buku-buku sejarah yang secara
khusus memuat sejarah perjuangan umat Islam Saparua, toh kalau ada masih
simpang siur, terutama terhadap tokoh yang mendapat gelar Pattimura. Ini
disebabkan yang pertamakali menulis sejarah Pattimura adalah mereka yang pada
zaman penjajahan sangat dekat dengan Belanda sehingga data-data yang mereka
peroleh pada umumnya bersumber dari Belanda. Sedangkan umat Islam, disamping
Sumber Daya Manusia (SDM) nya sangat rendah, juga sangat takut untuk
menceriterakan para pemimpin/ panglima perang dalam menentang Belanda
ditahun 1817 kepada orang yang didak ada hubungan darah dengannya.
Perlu diketahui, disaat posisi para penjuang mulai
terdesak kemudian banyak yang ditangkap dan dibunuh, maka umat Islam Saparua,
Haruku, Seram dan Ambon mengadakan sumpah untuk tidak menceriterakan asal usul
para pejuang perang di tahun 1817 kepada siapapun yang dicurigai bekerja sama
dengan Belanda karena bisa jadi anak cucunya menjadi korban penyiksaan bahkan
pembunuhan yang dilakukan oleh Belanda dan kakitangannya. Akibatnya sejarah perjuangan umat Islam
tertutup rapat kecuali dikalangan Umat Islam sendiri yang memperolehnya dari
ceritera leluhur mereka secara turun temurung dengan syarat tidak
menceriterakan kepada orang lain karena takut pada sumpah yang pernah diucapkan
oleh leluhur mereka. Sumpa tersebut sampai sekarang masih dipercaya dan dipegang
oleh sebagian umat Islam di beberapa tempat, mereka belum berani menceritakan
perjuangan leluhur mereka kepada orang
lain kecuali kepada
mereka yang diyakini ada hubungan darah dengannya dan
dapat dipercaya. Akibatnya disaat pemerintah Indonesia
minta masyarakat Maluku mengajukan nama seorang tokoh pejuang untuk ditetapkan
sebagai Pahlawan Nasional maka tokoh-tokoh Maluku yang beragama Nasrani dipusat
maupun di daerah dengan SDM yang tinggi yang mereka miliki, sepakat untuk
mengajukan nama Thomas Matulessy dan
Kristina Martatiahahu sebagai tokoh dan pejuang di tahun 1817 untuk menghilangkan kesan anak
emasnya Belanda. Nama kedua tokoh tersebut diambil dari buku “Sejarah
Perjuangan Pattimura” tulisan seorang tokoh PKI yang bernama Matius Sapija
sekitar tahun 1950-an yang sumber datanya berasal dari Belanda dan hasil imajinasinya
belaka.
Sudah menjadi satu kepercayaan
kuat di kalangan masyarakat kita, setiap yang datang dari luar, dianggap paling
baik dan benar, termasuk data sejarah yang datang dari Belanda, dianggap
otentik, paling benar dan panging akurat dari pada ceritera yang berasal dari
leluhur kita sendiri. Padahal boleh jadi sejarah perjuangan leluhur kita yang
mereka (Belanda dan Portugis) bawa itu, disana dirubah (dikurang dan ditamba) sehingga tidak sesuai lagi dengan asliannya. Atau orang yang pertama
mengambil data sejarah kita itu kemudian dirubah sesuai keinginanannya. Bisa
saja terjadi seperti itu.
Penulis yang berasal dari
Saparua sudah tidak takut terhadap sumpah para leluhur, akan memaparkan secara
singkat kehadapan para pembaca tentang sejarah perjuangan Umat Islam Saparua
dalam menentang Kolonial
untuk mempertahankan ke-Islam-an mereka, datanya berasal dari ceritera leluhur
yang urutannya sebagai berikut :
a. Asal nama Saparua,
b. Sebab disebut Saparua,
c. Pengaruh Islam,
d. Perlawanan terhadap Portugis,
e. Perlawanan terhadap Belanda,
f.
Sebab-sebab perang di tahun 1817,
g.
Manipulasi Sejarah
0 komentar:
Posting Komentar