Popular Posts

Rabu, 22 Januari 2014

Filled Under:

PERLAWANAN TERHADAP PORTOGIS DI SAPARUA



 Kehidupan di pulau Saparua di bawah kekuasaan Kerajaan Iha dan Kerajaan Honimoa, situasinya sangat aman, damai dan makmur rakyatnya, tidak pernah ada pertengkaran dan permusuhan yang berarti diantara keduanya karena merasa senasib serta merasa terikat oleh satu aqidah yaitu aqidah Islamiyah. Namun kedamaian
dan  kejayaan  yang  sudah berjalan puluhan tahun itu mulai terganggu setelah bangsa Portugis menduduki pulau itu. Aqidah umat Islam mulai diganggu oleh Padri-Padri Portugis yang mengadakan kegiatan Kristenisasi di bawah pimpinan Padri Mascarenhas yang merupakan anak buah dari pastor Fransiscus Xaverius (tokoh penyebar agama Katolik di Maluku) Mengenai Kristenisasi ini sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh C R Boxer yang dikutip oleh Pramita Abdurrahman dalam bukunya “Bunga Rampai Sejarah Maluku I”, halaman 53, sebagai betkut:

“Tujuan ekspansi Portugis  adalah  orang  Kristen dan rempah-rempah sebagaimana diucapkan oleh awak-awak eskader Vasco de  Gama  waktu  mereka tiba di Kalikut pada tahun 1498. Karena raja Purtugal merupakan juga pemegang tertinggi dari  hak-hak patronaat Gereja Katolik, maka setiap petugas kerajaan merupakan sekaligus penyebar Injil”

Kristenisasi di Saparua dimulai pada tahun 1570 M. Rakyat Saparua yang saat itu sudah menganut agama Islam dan sangat thaat, tidak rela membiarkan tindakan Portugis tersebut karena
dianggap satu tindakan biadab yang harus dihentikan. Mereka segera menyusun  kekuatan untuk mengadakan perlawanan demi mempertahankan Aqidah Islamiyah di bumi Saparua.

Imam besar mesjid kerajaan Islam Iha yang dikenal dengan nama “Kapitan Ulu Palu” memimpin rakyat Saparua untuk mengangkat senjata melawan Portugis guna mempertahankan diri dari bahaya penginjilan sehingga terjadilah pertempuran sengit dengan tidak henti- hentinya   di  wilayah   kerajaan  Iha  antara  rakyat Saparua yang beragama Islam melawan bangsa Portugis yang sengaja berusaha memurtadkan penduduk pulau Saparua dengan cara paksa

Dalam pertempuran itu banyak korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak. Karena banyaknya darah yang mengalir di tempat pertempuran, air sungai yang ada di sekitar lokasi pertempuran warnanya berubah menjadi merah akibat dari banyak tentara Portogis yang mati terpotong-potong dibuang di tempat tersebut maka sungai itu oleh rakyat Saprua menyebutnya dengan “Air Potong-Potong”  sedangkan  Portogis  menyebutnya “Air Potang-potang” maka sampai sekarang dikenal dengan “Air Potang-potang” mengikuti lidah Portugis.

Sekalipun banyak pasukan Portogis yang menjadi korban namun pada akhirnya Portugis berhasil juga dengan penginjilannya pada beberapa negeri di dua kerajaan Islam tersebut setelah panglima mereka Kapitan Ulu Palu gugur sebagai syuhada, namun harus dibayar dengan harga yang sangat mahal karena rakyat Saparua telah memperlihatkan kemampuannya sehingga Portugis   banyak yang menjadi  korban  dan  tidak  pernah  berhasil menaklukkan pusat dua kerajaan Islam tersebut karena setiap Portugis mendatangi penduduk untuk tujuan penginjilan, rakyatnya selalu menghindar dengan menyingkir kegunung-gunung sehingga tidak berhasil di Kristenkan, mereka inilah yang tetap menganut agama Islam sampai berakhirnya kekuasaan Portugis dan datangnya kekuasaan Belanda di Saparua.

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 GURU AGAMA ISLAM .