Kehidupan di pulau Saparua di bawah kekuasaan
Kerajaan Iha dan Kerajaan Honimoa, situasinya sangat aman, damai dan makmur rakyatnya, tidak pernah ada pertengkaran dan
permusuhan yang berarti diantara keduanya karena merasa senasib serta merasa
terikat oleh satu aqidah yaitu aqidah Islamiyah. Namun kedamaian
dan
kejayaan yang sudah berjalan puluhan tahun itu mulai
terganggu setelah bangsa Portugis menduduki pulau itu. Aqidah umat Islam mulai
diganggu oleh Padri-Padri Portugis yang mengadakan
kegiatan Kristenisasi di bawah
pimpinan Padri Mascarenhas yang
merupakan anak buah dari pastor Fransiscus Xaverius (tokoh penyebar
agama Katolik di Maluku) Mengenai Kristenisasi ini sesuai dengan apa yang
dijelaskan oleh C R Boxer yang dikutip oleh Pramita Abdurrahman dalam bukunya “Bunga
Rampai Sejarah Maluku I”, halaman 53, sebagai betkut:
“Tujuan ekspansi Portugis adalah orang
Kristen dan rempah-rempah sebagaimana diucapkan oleh awak-awak eskader
Vasco de Gama waktu
mereka tiba di Kalikut pada tahun 1498. Karena raja Purtugal merupakan
juga pemegang tertinggi dari hak-hak
patronaat Gereja Katolik, maka setiap petugas kerajaan merupakan sekaligus
penyebar Injil”
Kristenisasi di Saparua
dimulai pada tahun 1570 M. Rakyat Saparua yang saat itu sudah menganut agama
Islam dan sangat thaat, tidak rela membiarkan
tindakan Portugis tersebut karena
dianggap satu tindakan biadab yang harus dihentikan. Mereka segera menyusun kekuatan untuk mengadakan perlawanan demi mempertahankan Aqidah Islamiyah di bumi Saparua.
Imam besar mesjid kerajaan
Islam Iha yang dikenal dengan nama “Kapitan Ulu Palu” memimpin rakyat
Saparua untuk mengangkat senjata melawan Portugis guna mempertahankan diri dari
bahaya penginjilan sehingga terjadilah pertempuran sengit dengan tidak henti- hentinya di wilayah kerajaan Iha antara rakyat Saparua yang beragama Islam melawan bangsa Portugis yang sengaja
berusaha memurtadkan penduduk pulau Saparua dengan cara paksa
Dalam pertempuran itu banyak korban yang berjatuhan
dari kedua belah pihak. Karena banyaknya darah yang mengalir di tempat
pertempuran, air sungai yang ada di sekitar lokasi pertempuran warnanya berubah
menjadi merah akibat dari banyak tentara Portogis yang mati terpotong-potong
dibuang di tempat tersebut maka sungai itu oleh rakyat Saprua menyebutnya
dengan “Air Potong-Potong” sedangkan
Portogis menyebutnya “Air Potang-potang” maka
sampai sekarang dikenal dengan “Air Potang-potang” mengikuti lidah Portugis.
Sekalipun banyak pasukan Portogis yang menjadi korban
namun pada akhirnya Portugis berhasil juga dengan penginjilannya pada beberapa
negeri di dua kerajaan Islam tersebut setelah panglima mereka Kapitan Ulu Palu
gugur sebagai syuhada, namun harus dibayar dengan harga yang sangat mahal
karena rakyat Saparua telah memperlihatkan kemampuannya sehingga Portugis banyak yang menjadi korban
dan tidak pernah
berhasil menaklukkan pusat dua kerajaan Islam tersebut karena setiap
Portugis mendatangi penduduk untuk tujuan penginjilan, rakyatnya selalu
menghindar dengan menyingkir kegunung-gunung sehingga tidak berhasil di
Kristenkan, mereka inilah yang tetap menganut agama Islam sampai berakhirnya kekuasaan
Portugis dan datangnya kekuasaan Belanda di Saparua.
0 komentar:
Posting Komentar