Sejak awal abad ke 17 M,
masyarakat Muslim Saparua telah menunjukkan permusuhannya
terhadap Belanda. Permusuhan itu ditunjukkan dengan keikutsertaannya dalam membantu
saudara-saudara mereka sesama muslim pada :
a.
Perang Hoamual (1625 – 1656) di pulau Seram
bagian Barat, tepatnya di sekitar desa Kambelu.
b.
Perang Alaka
(1625 – 1637) di pulah Haruku bagian
Barat tepatnya antara desa Rohmoni dan Kabau sekarang.
c.
Perang Hitu (1633 – 1643) di pulau Ambon
bagian Utara.
Keterlibatan umat Islam Saparua dalam perang-perang
tersebut adalah untuk menghancurkan Belanda yang karena sikapnya tidak berbeda
dengan Portugis.
Kebencian rakyat (umat Islam)
Saparua terhadap Belanda makin bertambah karena mereka
tidak rela dengan sikap monopoli yang dijalankan serta membantu para Pendeta Belanda dalam
menjalankan tugas penginjilan terhadap negeri-negeri Islam di Saparua.
Karena itu Belanda sangat tidak senang kepada orang Islam Saparua. Belanda
menganggap orang Islam Saparua suka melawan dan sulit untuk ditaklukkan. Belanda
selalu berusaha dengan berbagai macam cara untuk menaklukkan Umat Islam Saparua
namun selalu gagal karena mendapat perlawanan. Akhirnya
dizaman kekuasaan Gujsels Gubernur Ambon yang keenam, kedua kerajaan itu
dapat ditaklukkan dengan lebih dulu Belanda mengirimkan bantuan dari Batavia
dengan membawa senjata berat dibawah pimpinan Admiral Anthoniasz.
Runtuhnya kedua Kerajaan
Islam tersebut karena di samping Belanda mengirimkan pasukan secara
besar-besaran ke wilayah itu, juga Belanda dapat memanfaatkan orang-orang yang
berhasil dipengaruhi seperti Sasabone
dari desa Tuhaha dan Toupessy dari Ullath. Keduanya
merupakan kaki tangan Belanda yang sangat berperan dalam mematahkan perlawanan
umat Islam Saparua.
Karena itu keduanya mendapat hadiah kutukan dari leluhur
Muslim Saparua sehingga keturunan dari kedua marga ini kurang berkembanmg
bahkan marga Toupessy jarang dijumpai di Saparua.
Kutukan leluhur Muslim terhadap kedua penghianat tersebut
diabadikan dalam kapata atau nyanyian adat
Saparua sebagai berikut:
“Sasabone kutuke,
Toupessy tobate,
puna leka AmaIHAL”
Artinya :
Terkutuklah Sasabone dan Toupessy, Kamu berdualah yang
menyebabkan hancurnya Islam Amaihal (Saparua)
Setelah hancurnya pusat dua
kerajaan Islam itu, maka sebagai gantinya, Belanda membangun sebuah kota lain
di tengah-tengah pulau yang penduduknya telah berhasil dipengaruhi untuk
memperkuat dan mempertahankan kekuasaannya. Kota
itu, menggunakan nama yang sama dengan nama pulaunya yaitu kota Saparua.
Dengan menguasai seluruh
pulau Saparua, Belanda makin meningkatkan praktek Kristenisasi terhadap
negeri-negeri Islam serta mengadakan monopoli perdagangan sebagaimana yang pernah
dilakukan oleh Portugis, sehingga membuat masyarakat (kaum muslim) Saparua
makin benci terhadap Belanda. Setiap adanya bahaya yang ditimbulkan oleh
Belanda yang berupa penindasan dan pemurtadan, seluruh rakyat dari pusat kedua kerajaan Islam tersebut selalu
menyingkir kegunung sebagai mana yang pernah dilakukan oleh leluhur mereka di zaman pendudukan Portugis. Belanda hanya dapat memurtadkan mereka yang tidak sempat menyingkir dengan
cara licik, seperti pemaksaan, penipuan dan lain sebagainya, dengan kata lain Belanda menghalalkan segala cara untuk mencapai
tujuan.
Keadaan umat Islam Saparua pada saat itu ibarat keluar
dari mulut buaya masuk ke mulut harimau. Keadaannya tidak pernah berubah bahkan
lebih menderita bila dibandingkan di masa pendudukan Portugis. Umat Islam
Saparua makin tidak berdaya, wilayah kekuasaannya dibagi-bagikan kepada mereka yang
telah berhasil dipengaruhi, mereka diwajibkan untuk menganut agama yang dibawa
Belanda, akibatnya beberapa negeri Muslim berhasil di Kristenkan dengan cara
paksa; seperti negeri Ullima di kerajaan Iha yang kemudian dijuluki
dengan “Iha Maane Hahu” artinya orang Iha yang mau makan babi, orang
Belanda menyebutnya dengan Ihamahu maka sampai sekarang dikenal dengan desa
Ihamahu. Disamping berhasil mengkristenkan penduduk Ihamahu, juga berhasil mengkristenkan
sebagian dari penduduk negeri Siri
Sori di kerajaan Honimua yang tidak sempat menyingkir ke gunung disaat
Belanda memasuki desa tersebut akibatnya penduduk negeri tersebut pecah menjadi
dua, sebagian besar penduduk yang mempertahankan ke Islamannya disebut Siri
Sori Islam dan sebagian kecil yang berhasil di Kristenkan disebut Siri Sori
Sarani (Nasrani). Sedangkan desa Kulur yang merupakan bagian dari kerajaan Iha
yang pada mulanya menempati Pia, dipaksa meninggalkan desa mereka untuk
menempati daerah kering dan berbatuan disebelah Barat Laut pusat kota kerajaan
Iha dengan harapan agar hidup mereka makin
menderita akibat dari menolak ajakanpenguasa Belanda untuk menganut agama Kristen.
Sedangkan wilayah mereka (Pia) Belanda berikan kepada sebagian kecil penduduk
Siri Sori Sarani untuk menempatinya sampai sekarang.
Krestenisasi bukan hanya terhadap umat Islam Saparua tapi juga terhadap
Umat Islam pulau Haruku seperti negeri Oma dan Hulaliw. Penduduk Oma yang mempertahankan ke-Islamannya menyingkir ke desa Tulehu
pulau Ambon dan disana mereka digabungkan dengan marga / fam Nahumaruli. Bukan hanya itu saja, desa Wai dan Suli di
pulau Ambon tidak luput dari Krestenisasi.
Kesewenang - wenangan
Belanda terhadap umat Islam Saparua, menyebabkan mereka mengalami penderitaan yang luar
biasa. Maka untuk mempertahankan ke-Islamannya sebagian umat Islam dari wilayah
Kerajaan Iha mengungsi ke Seram Barat dan menetap disana sampai sekarang dengan
menggunakan nama negeri / desa; Iha dan Kulur, mengambil dari nama negeri kekuasaan Kerajaan Iha di Saparua. Sedangkan rakyat Siri Sori dari Kerajaan
Honimua menghindar dengan jalan
menyingkir ke gunung-gunung.
Praktek Kristenisasi di Saparua yang dijalankan Portugis dan dilanjutkan Beland yang dimulai pada tahun 1570 M itu, baru berakhir setelah Indenburg (Gubernur Jederal Hindia Belanda th.1899 - 1906) melaksanakan
Politik Etis di tahun 1901. Dengan demikin praktek Kristenisasi di Saparua
berjalan selama 330 tahun. Akibatnya jumlah umat Islam Saparua yang pada tahun
1500 M sudah mencapai 99,99 %, merosot tajam hingga tinggal tidak lebih dari 15
%. Maka tidak heran, sebagian orang Islam dan orang Kristen di Saparua memiliki marga / fam
yang sama, seperti; Haulussy, Hehakaya, Holle, Luhulima, Patty, Pelupessy, Sahupala,
Saimima, Sopaheluwakan, Sopamena, Toisuta dan lain sebagainya, mereka itu
berasal dari satu leluhur Islam dan mereka masih tetap merasa bersaudara dengan
lainnya. Ada juga yang bermarga Kesauliya, leluhur mereka pada zaman
dahulu beragama Islam yang nama Islamnya ”Kisa Auliya”. Karena pengaruh
Belanda ia rela melepaskan mahkota ke-Islam-an yang berupa ikat kepala dengan
kain berwarna putih sebagai lambang ke-Islaman ketika itu yang pelepasan
tersebut dalam bahasa adat Saparua disebut dengan “Kisyi wuli”. (=
terlepas dari kepala) maka mulai saat itu
ia tidak lagi dipanggil dengan namanya sendiri (Kisa Auliya’) tetapi nama itu
diplesetkan menjadi “Kisyiwuliya” (= terlepas dari kepalanya) Belanda
menyebutnya ”Kesauliya”. Julukan tersebut kemudian menjadi nama marga / fam
bagi keturunannya.
Tidak ada sejarahnya orang islam murtad bernama kisa aulia,, dapt darimana sejarah ini??
BalasHapusKisah pemurdatan yang dilakukan Portugis dan Belanda di pulau Saparua dan sekitarnya yang beta ungkapkan itu, bukan mengarang dan bukan pula ngaco, akan tetapi kisah tersebut berasal dari ceritra leluhur muslim yang disampaikan secara lesan, dari mulut kemulut, dari satu generasi kegenerasi berikutnya sampai anak cucunya. Kisah pilu yang dialami leluhur Musim ini sudah hilang dan tidak diketahui lagi oleh generasi muda sekarang, terutama dikalangan generasi muda Kristen, mereka tidak percaya adanya kejadian yang memilukan itu.
HapusMungkin generasi muda negeri Ullath sekarang sudah tidak tahu bahwa negri mereka adalah negri muslim yang dipaksa menerima agama Kristen di Saparua, raja terakhir yang muslim adala raja Abdullah Nikiulu yang masih ada hubungan saudara dengan Ningkeula dari negri Kulur. Begitu pula negri-negri lainnya, mereka sudah sangat tidak percaya bahwa leluhur mereka pada zaman dahulu beragama Islam.
muda Kesauliya di negri Siri Sori Sarani sudah tidak tau bahkan tidak percaya bahwa leluhur mereka dulu seorang muslim
Mengapa generasi muda Kristen tidak tau dan tidak percaya dengan kisah-kisah tersebut?
Simak baik-baik, beta kasitau for kamorang samua!
Pada zaman dahulu kala leluhur kita satu aqidah, namun setelah Portugis dan Belanda berhasil memisahkan mereka, maka hubungan saudara menjadi putus. Yang berhasil dimurtadkan, malu bahkan tidak berani mengunjungi saudaranya yang masih mempertahankan ke- Islam- annya. Karena malu itulah sehingga mereka tidak mau menceritrakan masa lalu mereka kepada generasi berikutnya.
Sedangkan yang tetap mempertahankan ke Islam annya tidak lagi mengakui mereka yang murtad itu sebagai saudaranya, namun mereka tetap mengingatkan generasi berikutnya agar tidak lupa terhadap peristiwa yang menimpa mereka.
Karena itu, pumutuslah hubungan persaudaraan mereka inilah yang diistilahkan dengan PELA = habis . Maksudnya hubungan keluarga diantara mereka sudah tidak adalagi semuanya sudah habis (PELA NIA). Inilah yang dikehendaki Belanda karena bisa memanfaatkan para murtadin untuk menghancurkan orang Islam.
Namun Alhamdulillah (puji Tuhan) setelah adanya perubahan pada pemerintahan Belanda, maaka berubah pula sikap Belanda terhadap rakyat jajahannya. Belanda tidak mau melihat ketidak harmonisan hidup leluhur kita diteruskan oleh generasi berikutnya, maka diperbaharuilah istilah PELA, dari habislah sudah hubungan keluarga, menjadi habislah sudah semua pertengkaran dan permusuhan
Hahaha... ngaco...
BalasHapusKisah pemurdatan yang dilakukan Portugis dan Belanda di pulau Saparua dan sekitarnya yang beta ungkapkan itu, bukan mengarang dan bukan pula ngaco, akan tetapi kisah tersebut berasal dari ceritra leluhur muslim yang disampaikan secara lesan, dari mulut kemulut, dari satu generasi kegenerasi berikutnya sampai anak cucunya. Kisah pilu yang dialami leluhur Musim ini sudah hilang dan tidak diketahui lagi oleh generasi muda sekarang, terutama dikalangan generasi muda Kristen, mereka tidak percaya adanya kejadian yang memilukan itu.
HapusMungkin generasi muda negeri Ullath sekarang sudah tidak tahu bahwa negri mereka adalah negri muslim yang dipaksa menerima agama Kristen di Saparua, raja terakhir yang muslim adala raja Abdullah Nikiulu yang masih ada hubungan saudara dengan Ningkeula dari negri Kulur. Begitu pula negri-negri lainnya, mereka sudah sangat tidak percaya bahwa leluhur mereka pada zaman dahulu beragama Islam.
muda Kesauliya di negri Siri Sori Sarani sudah tidak tau bahkan tidak percaya bahwa leluhur mereka dulu seorang muslim
Mengapa generasi muda Kristen tidak tau dan tidak percaya dengan kisah-kisah tersebut?
Simak baik-baik, beta kasitau for kamorang samua!
Pada zaman dahulu kala leluhur kita satu aqidah, namun setelah Portugis dan Belanda berhasil memisahkan mereka, maka hubungan saudara menjadi putus. Yang berhasil dimurtadkan, malu bahkan tidak berani mengunjungi saudaranya yang masih mempertahankan ke- Islam- annya. Karena malu itulah sehingga mereka tidak mau menceritrakan masa lalu mereka kepada generasi berikutnya.
Sedangkan yang tetap mempertahankan ke Islam annya tidak lagi mengakui mereka yang murtad itu sebagai saudaranya, namun mereka tetap mengingatkan generasi berikutnya agar tidak lupa terhadap peristiwa yang menimpa mereka.
Karena itu, pumutuslah hubungan persaudaraan mereka inilah yang diistilahkan dengan PELA = habis . Maksudnya hubungan keluarga diantara mereka sudah tidak adalagi semuanya sudah habis (PELA NIA). Inilah yang dikehendaki Belanda karena bisa memanfaatkan para murtadin untuk menghancurkan orang Islam.
Namun Alhamdulillah (puji Tuhan) setelah adanya perubahan pada pemerintahan Belanda, maaka berubah pula sikap Belanda terhadap rakyat jajahannya. Belanda tidak mau melihat ketidak harmonisan hidup leluhur kita diteruskan oleh generasi berikutnya, maka diperbaharuilah istilah PELA, dari habislah sudah hubungan keluarga, menjadi habislah sudah semua pertengkaran dan permusuhan
Generasi muda Tutuhatunewa juga tidak tau bahwa leluhur mereka adalah seorang muslim yang taat bernama Marlatu beliau dijuluki "Tutu hatu newa". Munculnya julukan tsb, bermula dari musibah yg menimpanya terjepit batu besar , lalu diselamatkan oleh seorang leluhur marga/fam Watiheluw di Siri Sori dengan cara memecah batu tsb yg dalam bahasa adat artinya "Tutu hatu newa. tutu artinya tumbu, hatu artinya batu, newa artinya pecah. Karena peristiea tsb Marlatu dijuluki Tutuhatneea dan oleh anak cucunya dijadikan marga/fam
Hapus