Popular Posts

Rabu, 22 Januari 2014

Filled Under:

PENGARUH ISLAM DI SAPARUA



Sekitar 600 tahun dari kerasulan Muhammad saw atau menjelang berahkirnya kekuaasaan daulat Abbasiyah di Baghdad, Islam sudah ada di bumi Saparua dibawa oleh para mubaligh utusan khalifah An Nasir (khalifah Abbasiyah ke 34) yang berkuasa dari tahun 1180 – 1225 M. Para mubaligh utusan khalifah tersebut, dipimpin oleh dua ulama besar, yaitu :

1.  Syeh Abdurrahman Assagaf Maulana, berasal dari Bagdad Iraq, (mendapat gelar Sayyidina Baraba).

 2. Zainal Abidin Al-Idrus, berasal dari Bagdad Iraq, (bergelar  Somallo )

Mereka mendarat di pulau Saparua sekitar awal tahun 1212 M. Sesampainya di sana, segera membaur dengan penduduk setempat dan menetap di Elhau (wilayah negeri Siri Sori Islam sekarang)

Syeh Abdurrahman Assagaf Maulana menikah dengan Nyai Marauta adik dari raja Pati Kaihatu dari negeri Oma pulau Haruku, dikaruniai 5 orang anak empat putra dan satu putri. Beliau berhasil meng-Islam-kan negeri Oma. Anak cucunya bermarga / fam Wattiheluw dan Toisuta di Siri Sori Islam, serta Latuconsina di pulau Haruku

Zainal Abidin Al-Idrus menikah dengan Nyai Wasolo putri Paku Alam dari Kraton Solo, dikaruniai seorang putra berrnama Bahrun. Anak cucunya bermaega / fam Holle di Siri Sori Islam, Latin di Hila dan Lesteluhu di Tulehu Ambon dan juga Litiloli di Kulur dan Iha.

Para ulama dari Baghdad itulah yang pertama kali memperkenalkan agama Islam di pulau Saparua dan pulau-pulau sekitarnya.

Setelah keduanya (Abdurrahman Asagaf dan Zainal Abidin Al Idrus) keluar dari Saparua akibat perang antara Uli lima dan Uli siwa (Kerajaan Tidore dan Kerajaan Ternate), maka misi Islam dilanjutkan oleh seorang ulama dari Timur Tengah lainnya yang oleh masyarakat Saparua menyebutnya dengan Hijratuddin (wafat di Siri Sori Islam pada tahun 1286 M).

Beberapa puluh tahun kemudian datang seorang Ulama’ dari Tuban Jawa Timur bernama Abdullah, mendapat gelar Sopaleu. Lalu sekitar akhir abad ke 15 M datang mubaligh dari Aceh bernama Tengku Umar dan mubaligh dari Cina bernama Mahuang masyarakat ketika itu menyebutnya Upuka Mahuang. Mereka menyiarkan Islam di Saparua, Haruku, Seram dan Ambon.

Berkat kegigihan dan ketekunan para mubaligh tersebut dari masa kemasa dalam menyiarkan agama Islam, akhirnya pada abad ke 16 M, 90 tahun sebelum Portugis menduduki Saparua, Islam dianut oleh hampir seluruh penduduk, karena itu kerajaan Iha dan kerajaan Honimoa menetapkan Islam sebagai agama resmi kerajaan setelah raja dan rakyatnya memilih untuk menganut agama Islam.

Dalam perkembangan selanjutnya, dua Kerajaan Islam tersebut masuk dalam kelompok Ulilima yang merupakan satuan persekutuan adat yang mengakui Sultan Ternate sebagai kesultanan pelopor, Ada juga yang masuk kelompok Ulisiwa yang merupakan satuan  persekutuan  adat  yang  mengakui Sultan Tidore sebagai kesultanan pelopor.Dengan demikian betapa besarnya pengaruh Kerajaan / Kesultanan Ternate dan Kerajaan/ Kesultanan Tidore di daerah Maluku pada saat  itu.


Adanya dua Kerajaan Islam tersebut (Iha dan Honimua), menunjukkan Agama Islam di pulau Saparua pada masa itu, diperkirakan sudah dianut oleh 99,99 % penduduk sedangkan sisanya 0,01 % masih menganut kepercayaan animisme. Mereka yang menganut kepercayaan animisme ini semuanya berada di wilayah kerajaan Honimoa sedangkan untuk kerajaan Iha seluruhnya sudah menganut agama Islam.

3 komentar:

  1. 1. Berati, bisa dibilang, Islam di Saparua "seangkatan" dengan Islam di Samudera Pasai..
    2. Menurut sejarah, para wali, yg dikenal dengan sebutan wali songo yg menyebar Islam di Pulau Jawa, juga atas perintah khalifah saat itu. Hampir semunya berasal dari Timur Tengah..
    3. Salah satu kuburan di Siri Sori Islam dengan angka 1286 yg tertera pd nisan, apakah kuburan milik Ulama Penyebar Islam Hijratuddin???

    BalasHapus
  2. Maaf mungkin negeri tertentu saja yang memeluk islam di saparua sejak dahulu.. seperti iha, kulur, siri sori islam.Selebihnya animisme sebelum blanda masuk.. kalau seperti anda bilang 99,99 persen orang saparua dulu memeluk islam, otomatis bukti fisiknya sudah ada .. seperti mungkin gedung2 masjid yang masih tertinggal dibuat jadi situs sejarah.. buktinya tidak ada kan??? Yang ada hanya justru reruntuhan masjid dan kerajaan iha di gunung amihal waktu perang dengan blanda.. jadi sebelum berkesimpulan tolong pikir matang2 ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belanda dan Portugis tidak hanya ingin memurtadkan semua orang Islam Saparua, tapi juga menghilangkan jejak-jejak Islam yang dudah lama membumi di Saparua.
      Bangunan masjid di Saparua tidak sama dengan bangunan Candi di Jawa. Bangunan masjid pada zaman itu sangat sederhana, menggunakan rangkai dari kayu, dinding dari pelepah sagu (gabagaba), atap dari daun sagu lantainya diberi pasir, sangat sederhana kan,
      Candi-candi di Jawa bahan bangunannya menggunakan batu-batu besar yang disusun rapi sehingga membentuk bangunan indah yang sulit hancur menkipun berabad-abad tidak digunakan.
      Sedangkan msjid, bila tidak digunakan akan cepat roboh dan hancur, tidak berbekas. Maka pantas negeri-negeri yang telah meninggalkan Islam tersebut tidak ada seorangpun yang tau dimana letak masjidnya, tapi yang jelas mereka punya masjid

      Hapus

Copyright @ 2013 GURU AGAMA ISLAM .