Kamis, 30 Januari 2014
LADANG SASTRA SMKN 10 MALANG: MENDAK'WAHKAN KEBENARAN ALA QUR'ANI
Posted By:
NURIL ANWAR
on 16.07
LADANG SASTRA SMKN 10 MALANG: MENDAK'WAHKAN KEBENARAN ALA QUR'ANI: PARA ANGGOTA BDI SMKN 10 MALANG YANG BERBAHAGIA, LEWAT BDI INI SAYA MENYAMPAIKAN BAHWA MENDAKWAHKAN KEBENARAN YANG QUR'ANI ITU ADA 4 PR...
Sabtu, 25 Januari 2014
SUMBER BELAJAR : Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa
Posted By:
Agung Wearemania
on 15.47
SUMBER BELAJAR : Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa: Aktifitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, ka...
Kamis, 23 Januari 2014
Nasihat Sayyidina Ali bin Abu Thalib RA ...
Posted By:
HARSA SEVENTY
on 02.06
"Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan
salam atas Muhammad, Nabi yg ummi; juga kpd keluarga dan para sahabatnya,
sebanyak jumlah apa Yg Engkau ketahui, seindah apa Yg Engkau ketahui, dan
sepenuh apa Yg Engkau ketahui." Aamiin.
Sahabat
2 fillah yang smoga dimuliakanNya.
Ada 40 nasihat dari
Khulafaur Rasyidin keempat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib Radiyallahu Anhu. Yang
berguna bagi kita sebagai renungan dalam menjalani kehidupan & muhasabah
diri. Ke 40 Nasihat itu sebagai berikut :
1.Pendapat seorang yg lebih
tua adalah lebih baik daripada tenaga seorang muda.
2.Menyokong kesalahan
adalah menindas kebenaran.
3.Kebesaran seseorang itu
bergantung dgn qalbunya yg mana adalah sekeping daging.
4.Mereka yg bersifat
pertengahan dlm smua hal tidak akan menjadi miskin.
5.Jagalah ibu-bapamu,
niscaya anak2mu akan menjagamu.
6.Bakhil terhadap apa yg
ditangan adalah tidak mempunyai kepercayaan terhadap Allah.
7.Kekayaan seorang bakhil
akan turun kepada ahli warisnya atau ke angin. Tidak ada yg terpencil dari
seorang yg bakhil.
8.Orang arif lebih baik
daripada kearifannya. Orang jahat lebih jahat daripada kejahatannya
9. Ilmu lebih baik daripada
kekayaan karena kekayaan harus dijaga, sedangakan ilmu akan menjagamu
10.Jagalah harta bendamu
dengan mengeluarkan zakat dan angkatlah kesusahanmu dengan mendirikan shalat
11.Sifat menahan kemarahan
adalah lebih mulia daripada membalas dendam
12.Mengajar adalah belajar
13.Berkhairatlah mengikut
kemampuanmu dan janganlah kau jadikan keluargamu hina dan miskin
14.Insan terbagi kepada 3
golongan :
a) Mereka yang mengenal
Allah
b) Mereka yang mencari
kebenaran
c) Mereka yg tidak
berpengetahuan dan tidak mencari kebenaran.
Golongan yg terakhir inilah
yg paling rendah dan tak baik sekali dan mereka akan ikut sembarang ketua dg
buta seperti kambing.
15.Insan tak akan melihat
kesalahan seseorang yg bersifat tawadhu’ dan lemah
16.Janganlah engkau takut
kpada siapa melainkan dosamu terhadap Allah
17.Mereka yg mencari
kekhilafan dirinya sendiri adalah selamat dari mencari kekhilafan orang lain
18.Harga diri seseorang itu
adalah berdasarkan apa yg ia lakukan untuk memperbaiki dirinya
19.Manusia sebenarnya
sedang tidur tetapi akan bangun bila ia mati
20.Jika kau mempunyai
sepenuh keyakinan akan Al-Haq dan kebenaran, niscaya keyakinanmu tetap tidak
akan berubah walaupun terbuka rahasia2 kebenaran itu.
21.Allah merahmati mereka
yg kenal akan dirinya dan tidak melampaui batas
22.Sifat seseorang
tersembunyi dibalik lidahnya
23.Orang yg membantu adalah
sayapnya orang yg meminta
24.Insan tidur di atas
kematian anaknya, tetapi tidak tidur di atas kehilangan hartanya
25.Barangsiapa yg mencari
apa yg tidak mengenainya niscaya hilang apa yg mengenainya
26.Mereka yg mendengar orang
yg mengumpat terdiri daripada golongan mereka yg mengumpat
27.Kegelisahan adalah lebih
sukar dari kesabaran
28.Seorang yg hamba kepada
syahwatnya adalah seorang yang lebih hina daripada seorang hamba kepada hamba
29.Orang yg dengki marah
kepada orang tidak berdosa
30.Putus harapan adalah
satu kebebasan, mengharap (kepada manusia) adalah suatu kehambaan
31.Sangkaan seorang yg
berakal adalah suatu ramalan
32.Seorang akan mendapat
tauladan di atas apa yang dilihat
33.Taat kepada perempuan
(selain ibu) adalah kejahilan yg paling besar
34.Kejahatan itu
mengumpulkan kecelaan yang memalukan
35.Jika berharta,
berniagalah karena Allah dengan bersedekah
36.Janganlah engkau lihat
siapa yg berkata tetapi lihat apa yg dikatakannya
37.Tidak ada percintaan dengan
sifat yang berpura2
38.Tidak ada pakaian yg
lebih indah daripada keselamatan
39.Kebiasaan lisan adalah
apa yg telah dibiasakannya
40.Jika engkau telah
menguasai musuhmu, maafkanlah mereka, karena perbuatan itu adalah syukur kepada
keberhasilan yg telah kau peroleh.
Baca Selengkapnya
(http://al-syahbana.blogspot.com) - TAMPILKAN SELALU LINK SUMBER :
http://al-syahbana.blogspot.com/2013/09/40-kutipan-nasehat-ali-bin-abi-thalib.html#ixzz2rDIwd8C4
Rabu, 22 Januari 2014
PECAHNYA PERANG TAHUN 1817 DI SAPARUA
Posted By:
HARSA SEVENTY
on 22.32
Para mujahidin
sedang berdoa secara Islam setelah merebut
benteng durstede
Praktek Kristenisasi yang dijalankan Balanda di Saparua
sampai tahun 1817, sangat dirasakan oleh seorang Ulama, penyiar agama Islam di
wilayah Seram Selatan dan Saparua, mantan perwira angkatan perang Inggeris
dengan pangkat Kapten, putra Latu yang lebih dikenal dengan panggilan Mad Lussy, nama lengkapnya Ahmad
Lussy yang pada saat itu berada di Latu, Seram Selatan. Beliau
menerima informasi mengenai perkembangan Kristenisasi tersebut dari seorang teman
yang berasal dari desa Titawai pulau Nusalaut, bermukim di Saparua, Thomas Hehanusa namanya,kemudian
diganti dengan Sinene Hehanusa
setelah menjadi seorang muslim lalu hijrah ke Latu untuk berjihad melawan
Belanda dan mendapat gelar kapitan Latuleanusa. Beliau (Thomas Hehanusa) juga
menginformasikan kristenisasi di Saparua kepada Umar Lesy di pulau Ambon dan Matualesy di pulau Haruku.
Demi mempertahankan aqidah Islamiyah di bumi Saparua, Umar Lesy,
Matualesy dan Ahmad Lussy mengumpulkan kekuatan pasukan di daerah masing-masing
agar segera mengadakan penyeberangan ke Saparua untuk bergabung dengan para
mujahid di pulau tersebut guna mengadakan perlawanan terhadap Belanda demi
mempertahankan Aqidah Islam di Bumi Saparua.
Pasukan dari Ambon dan Haruku masuk pulau Saparua melalui
hutan Porto, di sana mereka menghancurkan sebuah pos Belanda yang ada
ditempat itu kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kota Saparua melewati
Waisisil, sedangkan pasukan yang dipimpin Ahmad Lussy menyeberang ke Saparua
melalui pantai Kohu yang terletak di dusun Pia sekarang. Dari Kohu mereka (Ahmad Lussy bersama pasukan) menuju
Kota Saparua melalui gunung Saniri. Di gunung ini sekitar jam 12.30
waktu setempat, mereka merebut sebuah pos Belanda, penjaganya dibunuh kemudian
dicincang-cincang, karenanya gunung tersebut dinamakan gunung Farkadel (peristiwa
itu terjadi pada hari Rabu 14 Mei 1817 M bertepatan dengan 27 Jumadil Akhir 1232 H). Ahmad
Lussy bersama pasukan meneruskan perjalanan menuju Kota Saparua yang ketika itu
menjadi pusat pertahanan Belanda. Sesampainya di sana, pasukan Ahmad Lussy,
Umar Lesy dan Matualesy segera bergabung untuk mengadakan pertemuan dengan
kelompok mujahidin setempat pimpinan Sarasa Sanaky Tepasiwa yang dikenal dengan panggilan “Sayyid Perintah” = tuan pemimpin (karena beliau adalah satu
satunya pemimpin yang memerintah pasukan untuk menyerang pertahanan Belanda
dari arah Siri Sori Islam). Dalam pertemuan tersebut mereka sepakat untuk mengadakan
serangan kepusat kekuasaan Kolonial Belanda di Benteng Duurstede pada hari Jum’at 16 Mei 1817 M / 29 Jumadil
Akhir 1232 H, serta menunjuk Ahmad Lussy sebagai panglima perang. Maka dengan pengalaman beliau sebagai mantan Perwira Angkatan Perang Tentara
Inggris, seusai shalat Jum’at memimpin pasukan untuk segera mengepung dan
menyerang pertahanan Belanda. Setelah benteng
terkepung, Ahmad Lussy masuk ke dalam benteng dengan cara memanjat tembok
benteng pojok Selatan (arah pantai), setelah berhasil masuk, segera membuka
pintu gerbang, maka dengan ucapan kalimat Takbir “ALLAHU AKBAR”
serta memiliki semangat jihat yang tinggi ditambah dengan rasa bencinya
terhadap Belanda, para pejuang serentak menyerbu benteng pertahanan Belanda dan
membunuh semua tentara Belanda yang diperkirakan sekitar 30 orang termasuk Residen Van den Berg yang ketika itu berada
dalam Benteng kecuali seorang anak perempuan yang masih berusia sekitar 8
tahun, dibiarkan hidup.
Peristiwa penyerbuan tersebut membuat Belanda menjadi kacau, maka untuk
menghentikan perlawanan, Belanda mendatangkan bantuan dari Ambon dan Jakarta untuk mematahkan
perlawanan rakyat dan memblokir semua jalur masuk ke Saparua, akhirnya pada bulan Agustus 1817 M
/ Syawal 1232 H, benteng Durstede di
Saparua dapat direbut kembali oleh Belanda. Dengan demikian Belanda
menjadi makin kuat dan pada bulan Oktober 1817 M /
Dzulhijjah 1232 H pasukan Belanda secara besar-besaran menyerbu
pertahanan para pejuang, sehingga mereka semakin terdesak, akibatnya banyak
pejuang yang tertangkap dan terbunuh sedangkan Ahmad Lussy dan Sarasa Sanaky
Tepasiwa (Sayyid Perinta) dapat meloloskan diri dan bersembunyi di beberapa
negeri (bukan di puncak gunung Booi) di Saparua dengan cara berpindah-pindah.
Untuk menghilangkan jejak, mereka sering berganti-ganti nama dan fam serta mengaku sebagai warga
negeri / desa dimana mereka bersembunyi. Namun karena penghianatan raja Booi
(Kristen) dan tipu muslihat Belanda akhirnya Ahmad Lussy tertangkap ketika
bersembunyi di Siri Sori Islam (sekali lagi bukan di puncak gunung Booi).
Sedangkan Sarasa (Sayyid Perinta) dapat meloloskan diri (ia meninggal dunia di Siri Sori Islam karena
sakit dan dikuburkan di dusun Salaiku pada th 1825).
Sebagai rasa tidak setuju atas penangkapan Ahmad
Lussy, penduduk Siri Sori Islam secara
serentak turun kejalan, unjuk rasa, protes terhadap
Belanda sambil berteriak “Mad-U-lesia,
Mad-U-lesia, Mad-U-lesia”. Kalimat ini
memiliki dua arti yaitu “bersama Mad
kita pasti menang” dan bisa juga berarti “Mad, hancurkan mereka (orang Belanda)”. Ahmad Lussy dibawa ke
Saparua kemudian pada hari Kamis 18
November 1817 M / 24 Muharam 1233 H diangkut ke Ambon bersama pejuang
lainnya, dengan kapal Evertsen dan tiba di Ambon pada hari Ahad 21 November
1817 M / 27 Muharam 1233 H. Kemudian pada Selasa 23 November 1817, bertepatan
dengan 29 Muharam 1233 H, Komisaris Jenderal untuk Hindia Belanda, pada waktu
itu ialah Schout bij Nacht Arnold Adriaans Buyskes, mengeluarkan surat
keputusan untuk menyerahkan Para pejuang yang telah tertangkap kehadapan Raad
van Justitie, pengadilan Belanda di Ambon dan divonis Hukum mati oleh Raad van
Justitie. Eksekusi dilaksanakan pada hari Selasa, 16 Desember 1817 M / 6 Safar 1233
H, dan Ahmad Lussy bersam kawan-kawannya gugur sebagai syuhada. Semoga
arwah mereka diterima disisi Yang Maha Kuasa.
Amin.
Tertangkapnya
Ahmad Lussy bersama kawan-kawannya, membuat Belanda makin meningkatkan tindakan
keras. Intimidasi serta praktek Kristenisasi
terhadap umat Islam lebih gencar lagi. Akibatnya
mengalami penderitaan yang luar biasa. Bukan hanya lahir saja yang menderita
tetapi batinpun dibuat menderita pula. Sedangkan mereka yang berhasil
dipengaruhi / dimurtadkan mendapat perlakuan yang sangat istimewa, diberi
kedudukan dan jabatan serta pasilitas pendidikan yang memadai untuk
meningkatkan pendidikan mereka.
Semua sarana pendidikkan
berada di koloni Kristen.
Perlakuan semacam itu tidak pernah diperoleh umat Islam
pada masa itu karena umat Islam tidak bisa diajak kerja sama. Situasi
seperti itu berjalan terus sampai adanya perubahan polotik di Negeri Belanda
yaitu golongan Konservatif yang selama ini menguasai pemerintahan serta
kebijaksanaannya yang selalu menyengsarakan penduduk negara jajahannya, mengalami
kekalahan dari golongan Liberal. Golongan yang menang inilah yang memberi
kebebasan bagi pendudk negeri jajahan dalam segala bidang termasuk bidang
pendidikan. Kebijakan tersebut dikenal dengan Politik Etis / Politik Balas
budi. Politik tersebut dilaksanakan oleh Indenburg sebagai Gubernur
Jenderal Hindia Belanda, (namun tetap menguntungkan Belanda). Maka mulai saat
itu anak-anak orang Islam Saparua untuk pertamakalinya diterima sebagai siswa
sekolah-sekolah umum milik pemerintah Belanda namun hanya terbatas bagi
anak-anak raja dan anak-anak orang yang dapat diajak kerja sama dengan Belanda.
Maka tidak heran di awal kemerdekaan Indonesia sumber daya manusia (SDM) umat
Islam Saparua sangat rendah. Umat Islam ketika itu yang dapat membaca dan menulis
huruf latin diperkirakan tidak lebih dari 0,02 % saja, 75 % dari mereka yang dapat membaca huruf
latin itu hanya lulusan Volks School (SR 3 th,) sedangkan 20 % lulusan HIS =
Hollands Inlandsche School (Sekolah Dasar 6 th.) dan yang 5% lagi lulusan MULO
(SMP).
Tenaga pendidik di sekolah-sekolah umum mulai dari
Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Lanjutan Atas di awal kemerdekaan, adalah
mereka yang beragama Nasrani, bahkan Universitas Pattimura satu satunya
Universitas milik pemerintah
di Kota Ambon, tenaga pengajarnya didominasi oleh mereka
yang beragama Nasrani karena merekalah yang memiliki SDM (Sumber Daya Manusia)
yang memadai yang merupakan warisan pembinaan Kolonial Belanda
SEBAB PERMUSUHAN TERHADAP BELANDA DI SAPARUA
Posted By:
HARSA SEVENTY
on 22.14
Sejak awal abad ke 17 M,
masyarakat Muslim Saparua telah menunjukkan permusuhannya
terhadap Belanda. Permusuhan itu ditunjukkan dengan keikutsertaannya dalam membantu
saudara-saudara mereka sesama muslim pada :
a.
Perang Hoamual (1625 – 1656) di pulau Seram
bagian Barat, tepatnya di sekitar desa Kambelu.
b.
Perang Alaka
(1625 – 1637) di pulah Haruku bagian
Barat tepatnya antara desa Rohmoni dan Kabau sekarang.
c.
Perang Hitu (1633 – 1643) di pulau Ambon
bagian Utara.
Keterlibatan umat Islam Saparua dalam perang-perang
tersebut adalah untuk menghancurkan Belanda yang karena sikapnya tidak berbeda
dengan Portugis.
Kebencian rakyat (umat Islam)
Saparua terhadap Belanda makin bertambah karena mereka
tidak rela dengan sikap monopoli yang dijalankan serta membantu para Pendeta Belanda dalam
menjalankan tugas penginjilan terhadap negeri-negeri Islam di Saparua.
Karena itu Belanda sangat tidak senang kepada orang Islam Saparua. Belanda
menganggap orang Islam Saparua suka melawan dan sulit untuk ditaklukkan. Belanda
selalu berusaha dengan berbagai macam cara untuk menaklukkan Umat Islam Saparua
namun selalu gagal karena mendapat perlawanan. Akhirnya
dizaman kekuasaan Gujsels Gubernur Ambon yang keenam, kedua kerajaan itu
dapat ditaklukkan dengan lebih dulu Belanda mengirimkan bantuan dari Batavia
dengan membawa senjata berat dibawah pimpinan Admiral Anthoniasz.
Runtuhnya kedua Kerajaan
Islam tersebut karena di samping Belanda mengirimkan pasukan secara
besar-besaran ke wilayah itu, juga Belanda dapat memanfaatkan orang-orang yang
berhasil dipengaruhi seperti Sasabone
dari desa Tuhaha dan Toupessy dari Ullath. Keduanya
merupakan kaki tangan Belanda yang sangat berperan dalam mematahkan perlawanan
umat Islam Saparua.
Karena itu keduanya mendapat hadiah kutukan dari leluhur
Muslim Saparua sehingga keturunan dari kedua marga ini kurang berkembanmg
bahkan marga Toupessy jarang dijumpai di Saparua.
Kutukan leluhur Muslim terhadap kedua penghianat tersebut
diabadikan dalam kapata atau nyanyian adat
Saparua sebagai berikut:
“Sasabone kutuke,
Toupessy tobate,
puna leka AmaIHAL”
Artinya :
Terkutuklah Sasabone dan Toupessy, Kamu berdualah yang
menyebabkan hancurnya Islam Amaihal (Saparua)
Setelah hancurnya pusat dua
kerajaan Islam itu, maka sebagai gantinya, Belanda membangun sebuah kota lain
di tengah-tengah pulau yang penduduknya telah berhasil dipengaruhi untuk
memperkuat dan mempertahankan kekuasaannya. Kota
itu, menggunakan nama yang sama dengan nama pulaunya yaitu kota Saparua.
Dengan menguasai seluruh
pulau Saparua, Belanda makin meningkatkan praktek Kristenisasi terhadap
negeri-negeri Islam serta mengadakan monopoli perdagangan sebagaimana yang pernah
dilakukan oleh Portugis, sehingga membuat masyarakat (kaum muslim) Saparua
makin benci terhadap Belanda. Setiap adanya bahaya yang ditimbulkan oleh
Belanda yang berupa penindasan dan pemurtadan, seluruh rakyat dari pusat kedua kerajaan Islam tersebut selalu
menyingkir kegunung sebagai mana yang pernah dilakukan oleh leluhur mereka di zaman pendudukan Portugis. Belanda hanya dapat memurtadkan mereka yang tidak sempat menyingkir dengan
cara licik, seperti pemaksaan, penipuan dan lain sebagainya, dengan kata lain Belanda menghalalkan segala cara untuk mencapai
tujuan.
Keadaan umat Islam Saparua pada saat itu ibarat keluar
dari mulut buaya masuk ke mulut harimau. Keadaannya tidak pernah berubah bahkan
lebih menderita bila dibandingkan di masa pendudukan Portugis. Umat Islam
Saparua makin tidak berdaya, wilayah kekuasaannya dibagi-bagikan kepada mereka yang
telah berhasil dipengaruhi, mereka diwajibkan untuk menganut agama yang dibawa
Belanda, akibatnya beberapa negeri Muslim berhasil di Kristenkan dengan cara
paksa; seperti negeri Ullima di kerajaan Iha yang kemudian dijuluki
dengan “Iha Maane Hahu” artinya orang Iha yang mau makan babi, orang
Belanda menyebutnya dengan Ihamahu maka sampai sekarang dikenal dengan desa
Ihamahu. Disamping berhasil mengkristenkan penduduk Ihamahu, juga berhasil mengkristenkan
sebagian dari penduduk negeri Siri
Sori di kerajaan Honimua yang tidak sempat menyingkir ke gunung disaat
Belanda memasuki desa tersebut akibatnya penduduk negeri tersebut pecah menjadi
dua, sebagian besar penduduk yang mempertahankan ke Islamannya disebut Siri
Sori Islam dan sebagian kecil yang berhasil di Kristenkan disebut Siri Sori
Sarani (Nasrani). Sedangkan desa Kulur yang merupakan bagian dari kerajaan Iha
yang pada mulanya menempati Pia, dipaksa meninggalkan desa mereka untuk
menempati daerah kering dan berbatuan disebelah Barat Laut pusat kota kerajaan
Iha dengan harapan agar hidup mereka makin
menderita akibat dari menolak ajakanpenguasa Belanda untuk menganut agama Kristen.
Sedangkan wilayah mereka (Pia) Belanda berikan kepada sebagian kecil penduduk
Siri Sori Sarani untuk menempatinya sampai sekarang.
Krestenisasi bukan hanya terhadap umat Islam Saparua tapi juga terhadap
Umat Islam pulau Haruku seperti negeri Oma dan Hulaliw. Penduduk Oma yang mempertahankan ke-Islamannya menyingkir ke desa Tulehu
pulau Ambon dan disana mereka digabungkan dengan marga / fam Nahumaruli. Bukan hanya itu saja, desa Wai dan Suli di
pulau Ambon tidak luput dari Krestenisasi.
Kesewenang - wenangan
Belanda terhadap umat Islam Saparua, menyebabkan mereka mengalami penderitaan yang luar
biasa. Maka untuk mempertahankan ke-Islamannya sebagian umat Islam dari wilayah
Kerajaan Iha mengungsi ke Seram Barat dan menetap disana sampai sekarang dengan
menggunakan nama negeri / desa; Iha dan Kulur, mengambil dari nama negeri kekuasaan Kerajaan Iha di Saparua. Sedangkan rakyat Siri Sori dari Kerajaan
Honimua menghindar dengan jalan
menyingkir ke gunung-gunung.
Praktek Kristenisasi di Saparua yang dijalankan Portugis dan dilanjutkan Beland yang dimulai pada tahun 1570 M itu, baru berakhir setelah Indenburg (Gubernur Jederal Hindia Belanda th.1899 - 1906) melaksanakan
Politik Etis di tahun 1901. Dengan demikin praktek Kristenisasi di Saparua
berjalan selama 330 tahun. Akibatnya jumlah umat Islam Saparua yang pada tahun
1500 M sudah mencapai 99,99 %, merosot tajam hingga tinggal tidak lebih dari 15
%. Maka tidak heran, sebagian orang Islam dan orang Kristen di Saparua memiliki marga / fam
yang sama, seperti; Haulussy, Hehakaya, Holle, Luhulima, Patty, Pelupessy, Sahupala,
Saimima, Sopaheluwakan, Sopamena, Toisuta dan lain sebagainya, mereka itu
berasal dari satu leluhur Islam dan mereka masih tetap merasa bersaudara dengan
lainnya. Ada juga yang bermarga Kesauliya, leluhur mereka pada zaman
dahulu beragama Islam yang nama Islamnya ”Kisa Auliya”. Karena pengaruh
Belanda ia rela melepaskan mahkota ke-Islam-an yang berupa ikat kepala dengan
kain berwarna putih sebagai lambang ke-Islaman ketika itu yang pelepasan
tersebut dalam bahasa adat Saparua disebut dengan “Kisyi wuli”. (=
terlepas dari kepala) maka mulai saat itu
ia tidak lagi dipanggil dengan namanya sendiri (Kisa Auliya’) tetapi nama itu
diplesetkan menjadi “Kisyiwuliya” (= terlepas dari kepalanya) Belanda
menyebutnya ”Kesauliya”. Julukan tersebut kemudian menjadi nama marga / fam
bagi keturunannya.
Langganan:
Komentar (Atom)
