Popular Posts

Kamis, 30 Januari 2014

LADANG SASTRA SMKN 10 MALANG: MENDAK'WAHKAN KEBENARAN ALA QUR'ANI

LADANG SASTRA SMKN 10 MALANG: MENDAK'WAHKAN KEBENARAN ALA QUR'ANI: PARA ANGGOTA BDI SMKN 10 MALANG YANG BERBAHAGIA, LEWAT BDI INI SAYA MENYAMPAIKAN BAHWA MENDAKWAHKAN KEBENARAN YANG QUR'ANI ITU ADA 4 PR...

Sabtu, 25 Januari 2014

SUMBER BELAJAR : Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa

SUMBER BELAJAR : Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa: Aktifitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, ka...

Kamis, 23 Januari 2014

Nasihat Sayyidina Ali bin Abu Thalib RA ...




"Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam atas Muhammad, Nabi yg ummi; juga kpd keluarga dan para sahabatnya, sebanyak jumlah apa Yg Engkau ketahui, seindah apa Yg Engkau ketahui, dan sepenuh apa Yg Engkau ketahui." Aamiin.
Sahabat  2 fillah yang  smoga dimuliakanNya.

Ada 40 nasihat dari Khulafaur Rasyidin keempat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib Radiyallahu Anhu. Yang berguna bagi kita sebagai renungan dalam menjalani kehidupan & muhasabah diri. Ke 40 Nasihat itu sebagai berikut :
1.Pendapat seorang yg lebih tua adalah lebih baik daripada tenaga seorang muda.
2.Menyokong kesalahan adalah menindas kebenaran.
3.Kebesaran seseorang itu bergantung dgn qalbunya yg mana adalah sekeping daging.
4.Mereka yg bersifat pertengahan dlm smua hal tidak akan menjadi miskin.
5.Jagalah ibu-bapamu, niscaya anak2mu akan menjagamu.
6.Bakhil terhadap apa yg ditangan adalah tidak mempunyai kepercayaan terhadap Allah.
7.Kekayaan seorang bakhil akan turun kepada ahli warisnya atau ke angin. Tidak ada yg terpencil dari seorang yg bakhil.
8.Orang arif lebih baik daripada kearifannya. Orang jahat lebih jahat daripada kejahatannya
9. Ilmu lebih baik daripada kekayaan karena kekayaan harus dijaga, sedangakan ilmu akan menjagamu
10.Jagalah harta bendamu dengan mengeluarkan zakat dan angkatlah kesusahanmu dengan mendirikan shalat
11.Sifat menahan kemarahan adalah lebih mulia daripada membalas dendam
12.Mengajar adalah belajar
13.Berkhairatlah mengikut kemampuanmu dan janganlah kau jadikan keluargamu hina dan miskin
14.Insan terbagi kepada 3 golongan :
a) Mereka yang mengenal Allah
b) Mereka yang mencari kebenaran
c) Mereka yg tidak berpengetahuan dan tidak mencari kebenaran.
Golongan yg terakhir inilah yg paling rendah dan tak baik sekali dan mereka akan ikut sembarang ketua dg buta seperti kambing.
15.Insan tak akan melihat kesalahan seseorang yg bersifat tawadhu’ dan lemah
16.Janganlah engkau takut kpada siapa melainkan dosamu terhadap Allah
17.Mereka yg mencari kekhilafan dirinya sendiri adalah selamat dari mencari kekhilafan orang lain
18.Harga diri seseorang itu adalah berdasarkan apa yg ia lakukan untuk memperbaiki dirinya
19.Manusia sebenarnya sedang tidur tetapi akan bangun bila ia mati
20.Jika kau mempunyai sepenuh keyakinan akan Al-Haq dan kebenaran, niscaya keyakinanmu tetap tidak akan berubah walaupun terbuka rahasia2 kebenaran itu.
21.Allah merahmati mereka yg kenal akan dirinya dan tidak melampaui batas
22.Sifat seseorang tersembunyi dibalik lidahnya
23.Orang yg membantu adalah sayapnya orang yg meminta
24.Insan tidur di atas kematian anaknya, tetapi tidak tidur di atas kehilangan hartanya
25.Barangsiapa yg mencari apa yg tidak mengenainya niscaya hilang apa yg mengenainya
26.Mereka yg mendengar orang yg mengumpat terdiri daripada golongan mereka yg mengumpat
27.Kegelisahan adalah lebih sukar dari kesabaran
28.Seorang yg hamba kepada syahwatnya adalah seorang yang lebih hina daripada seorang hamba kepada hamba
29.Orang yg dengki marah kepada orang tidak berdosa
30.Putus harapan adalah satu kebebasan, mengharap (kepada manusia) adalah suatu kehambaan
31.Sangkaan seorang yg berakal adalah suatu ramalan
32.Seorang akan mendapat tauladan di atas apa yang dilihat
33.Taat kepada perempuan (selain ibu) adalah kejahilan yg paling besar
34.Kejahatan itu mengumpulkan kecelaan yang memalukan
35.Jika berharta, berniagalah karena Allah dengan bersedekah
36.Janganlah engkau lihat siapa yg berkata tetapi lihat apa yg dikatakannya
37.Tidak ada percintaan dengan sifat yang berpura2
38.Tidak ada pakaian yg lebih indah daripada keselamatan
39.Kebiasaan lisan adalah apa yg telah dibiasakannya
40.Jika engkau telah menguasai musuhmu, maafkanlah mereka, karena perbuatan itu adalah syukur kepada keberhasilan yg telah kau peroleh.


Baca Selengkapnya (http://al-syahbana.blogspot.com) - TAMPILKAN SELALU LINK SUMBER : http://al-syahbana.blogspot.com/2013/09/40-kutipan-nasehat-ali-bin-abi-thalib.html#ixzz2rDIwd8C4

Rabu, 22 Januari 2014

PECAHNYA PERANG TAHUN 1817 DI SAPARUA

Para mujahidin sedang berdoa secara Islam setelah merebut
benteng durstede


Praktek Kristenisasi yang dijalankan Balanda di Saparua sampai tahun 1817, sangat dirasakan oleh seorang Ulama, penyiar agama Islam di wilayah Seram Selatan dan Saparua, mantan perwira angkatan perang Inggeris dengan pangkat Kapten, putra Latu yang lebih dikenal dengan panggilan Mad Lussy, nama lengkapnya  Ahmad Lussy  yang pada saat  itu berada di Latu, Seram Selatan. Beliau menerima informasi mengenai perkembangan Kristenisasi tersebut dari seorang teman yang berasal dari desa Titawai pulau Nusalaut, bermukim di Saparua, Thomas Hehanusa namanya,kemudian diganti dengan Sinene Hehanusa setelah menjadi seorang muslim lalu hijrah ke Latu untuk berjihad melawan Belanda dan mendapat gelar kapitan Latuleanusa. Beliau (Thomas Hehanusa) juga menginformasikan kristenisasi di Saparua kepada Umar Lesy di pulau Ambon dan Matualesy di pulau Haruku.

Demi mempertahankan aqidah Islamiyah di bumi Saparua, Umar Lesy, Matualesy dan Ahmad Lussy mengumpulkan kekuatan pasukan di daerah masing-masing agar segera mengadakan penyeberangan ke Saparua untuk bergabung dengan para mujahid di pulau tersebut guna mengadakan perlawanan terhadap Belanda demi mempertahankan Aqidah Islam di Bumi Saparua.

Pasukan dari Ambon dan Haruku masuk pulau Saparua melalui hutan Porto, di sana mereka menghancurkan sebuah pos Belanda yang ada ditempat itu kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kota Saparua melewati Waisisil, sedangkan pasukan yang dipimpin Ahmad Lussy menyeberang ke Saparua melalui pantai Kohu yang terletak di dusun Pia sekarang. Dari Kohu mereka (Ahmad Lussy bersama pasukan) menuju Kota Saparua melalui gunung Saniri. Di gunung ini sekitar jam 12.30 waktu setempat, mereka merebut sebuah pos Belanda, penjaganya dibunuh kemudian dicincang-cincang, karenanya gunung tersebut dinamakan gunung Farkadel (peristiwa itu terjadi pada hari Rabu 14 Mei 1817 M bertepatan dengan 27 Jumadil Akhir 1232 H). Ahmad Lussy bersama pasukan meneruskan perjalanan menuju Kota Saparua yang ketika itu menjadi pusat pertahanan Belanda. Sesampainya di sana, pasukan Ahmad Lussy, Umar Lesy dan Matualesy segera bergabung untuk mengadakan pertemuan dengan kelompok  mujahidin setempat pimpinan Sarasa Sanaky Tepasiwa yang dikenal dengan panggilan “Sayyid Perintah” = tuan pemimpin (karena beliau adalah satu satunya pemimpin yang memerintah pasukan untuk menyerang pertahanan Belanda dari arah Siri Sori Islam). Dalam pertemuan tersebut mereka sepakat untuk mengadakan serangan kepusat kekuasaan Kolonial Belanda di Benteng Duurstede pada hari Jum’at 16 Mei 1817 M / 29 Jumadil Akhir 1232 H, serta menunjuk Ahmad Lussy sebagai panglima  perang. Maka  dengan pengalaman beliau sebagai mantan Perwira Angkatan Perang Tentara Inggris, seusai shalat Jum’at memimpin pasukan untuk segera mengepung dan menyerang pertahanan Belanda. Setelah benteng terkepung, Ahmad Lussy masuk ke dalam benteng dengan cara memanjat tembok benteng pojok Selatan (arah pantai), setelah berhasil masuk, segera membuka pintu gerbang, maka dengan ucapan kalimat Takbir “ALLAHU AKBAR” serta memiliki semangat jihat yang tinggi ditambah dengan rasa bencinya terhadap Belanda, para pejuang serentak menyerbu benteng pertahanan Belanda dan membunuh semua tentara Belanda yang diperkirakan sekitar 30 orang termasuk Residen Van den Berg yang ketika itu berada dalam Benteng kecuali seorang anak perempuan yang masih berusia sekitar 8 tahun, dibiarkan hidup.

Peristiwa penyerbuan tersebut membuat Belanda menjadi kacau, maka untuk menghentikan perlawanan, Belanda mendatangkan bantuan dari Ambon dan Jakarta untuk mematahkan perlawanan rakyat dan memblokir semua jalur masuk ke Saparua, akhirnya  pada  bulan  Agustus  1817  M / Syawal 1232 H,  benteng  Durstede di  Saparua dapat direbut kembali oleh Belanda. Dengan demikian  Belanda  menjadi  makin  kuat dan pada bulan Oktober 1817 M / Dzulhijjah 1232 H pasukan Belanda secara besar-besaran menyerbu pertahanan para pejuang, sehingga mereka semakin terdesak, akibatnya banyak pejuang yang tertangkap dan terbunuh sedangkan Ahmad Lussy dan Sarasa Sanaky Tepasiwa (Sayyid Perinta) dapat meloloskan diri dan bersembunyi di beberapa negeri (bukan di puncak gunung Booi) di Saparua dengan cara berpindah-pindah. Untuk menghilangkan jejak, mereka sering berganti-ganti nama dan fam serta mengaku sebagai warga negeri / desa dimana mereka bersembunyi. Namun karena penghianatan raja Booi (Kristen) dan tipu muslihat Belanda akhirnya Ahmad Lussy tertangkap ketika bersembunyi di Siri Sori Islam (sekali lagi bukan di puncak gunung Booi). Sedangkan Sarasa (Sayyid Perinta) dapat meloloskan diri  (ia meninggal dunia di Siri Sori Islam karena sakit dan dikuburkan di dusun Salaiku pada th 1825).
Sebagai rasa tidak setuju atas penangkapan Ahmad Lussy, penduduk Siri Sori Islam secara
serentak turun kejalan, unjuk rasa, protes terhadap Belanda sambil berteriak “Mad-U-lesia, Mad-U-lesia, Mad-U-lesia”. Kalimat ini memiliki dua arti yaitu “bersama Mad kita pasti menang” dan bisa juga berarti “Mad, hancurkan mereka (orang Belanda)”. Ahmad Lussy dibawa ke Saparua kemudian pada hari Kamis 18 November 1817 M / 24 Muharam 1233 H diangkut ke Ambon bersama pejuang lainnya, dengan kapal Evertsen dan tiba di Ambon pada hari Ahad 21 November 1817 M / 27 Muharam 1233 H. Kemudian pada Selasa 23 November 1817, bertepatan dengan 29 Muharam 1233 H, Komisaris Jenderal untuk Hindia Belanda, pada waktu itu ialah Schout bij Nacht Arnold Adriaans Buyskes, mengeluarkan surat keputusan untuk menyerahkan Para pejuang yang telah tertangkap kehadapan Raad van Justitie, pengadilan Belanda di Ambon dan divonis Hukum mati oleh Raad van Justitie. Eksekusi dilaksanakan pada hari Selasa, 16 Desember 1817 M /  6 Safar 1233 H, dan Ahmad Lussy bersam kawan-kawannya gugur sebagai syuhada. Semoga arwah mereka diterima disisi Yang Maha Kuasa.  Amin.
Tertangkapnya Ahmad Lussy bersama kawan-kawannya, membuat Belanda makin meningkatkan tindakan keras. Intimidasi serta praktek Kristenisasi
terhadap umat Islam lebih gencar lagi. Akibatnya mengalami penderitaan yang luar biasa. Bukan hanya lahir saja yang menderita tetapi batinpun dibuat menderita pula. Sedangkan mereka yang berhasil dipengaruhi / dimurtadkan mendapat perlakuan yang sangat istimewa, diberi kedudukan dan jabatan serta pasilitas pendidikan yang memadai untuk meningkatkan pendidikan mereka.
Semua sarana pendidikkan berada di koloni Kristen.
Perlakuan semacam itu tidak pernah diperoleh umat Islam pada masa itu karena umat Islam tidak bisa diajak kerja sama. Situasi seperti itu berjalan terus sampai adanya perubahan polotik di Negeri Belanda yaitu golongan Konservatif yang selama ini menguasai pemerintahan serta kebijaksanaannya yang selalu menyengsarakan penduduk negara jajahannya, mengalami kekalahan dari golongan Liberal. Golongan yang menang inilah yang memberi kebebasan bagi pendudk negeri jajahan dalam segala bidang termasuk bidang pendidikan. Kebijakan tersebut dikenal dengan Politik Etis / Politik Balas budi. Politik tersebut dilaksanakan oleh Indenburg sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, (namun tetap menguntungkan Belanda). Maka mulai saat itu anak-anak orang Islam Saparua untuk pertamakalinya diterima sebagai siswa sekolah-sekolah umum milik pemerintah Belanda namun hanya terbatas bagi anak-anak raja dan anak-anak orang yang dapat diajak kerja sama dengan Belanda. Maka tidak heran di awal kemerdekaan Indonesia sumber daya manusia (SDM) umat Islam Saparua sangat rendah. Umat Islam ketika itu yang dapat membaca dan menulis huruf latin diperkirakan tidak lebih dari 0,02 % saja,  75 % dari mereka yang dapat membaca huruf latin itu hanya lulusan Volks School (SR 3 th,) sedangkan 20 % lulusan HIS = Hollands Inlandsche School (Sekolah Dasar 6 th.) dan yang 5% lagi lulusan MULO (SMP).

Tenaga pendidik di sekolah-sekolah umum mulai dari Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Lanjutan Atas di awal kemerdekaan, adalah mereka yang beragama Nasrani, bahkan Universitas Pattimura satu satunya Universitas milik pemerintah
di Kota Ambon, tenaga pengajarnya didominasi oleh mereka yang beragama Nasrani karena merekalah yang memiliki SDM (Sumber Daya Manusia) yang memadai yang merupakan warisan pembinaan Kolonial Belanda


SEBAB PERMUSUHAN TERHADAP BELANDA DI SAPARUA



Sejak awal abad ke 17 M, masyarakat Muslim Saparua telah menunjukkan permusuhannya terhadap Belanda. Permusuhan itu ditunjukkan dengan keikutsertaannya dalam membantu saudara-saudara mereka sesama muslim pada :

a.       Perang Hoamual (1625 – 1656) di pulau Seram bagian Barat, tepatnya di sekitar desa Kambelu.
b.       Perang Alaka (1625 – 1637) di pulah  Haruku bagian Barat tepatnya antara desa Rohmoni dan Kabau sekarang.
c.       Perang Hitu (1633 – 1643) di pulau Ambon bagian Utara.

Keterlibatan umat Islam Saparua dalam perang-perang tersebut adalah untuk menghancurkan Belanda yang karena sikapnya tidak berbeda dengan Portugis.
Kebencian rakyat (umat Islam) Saparua terhadap Belanda makin bertambah karena mereka
tidak rela dengan sikap monopoli yang dijalankan  serta membantu para Pendeta Belanda dalam menjalankan tugas penginjilan terhadap negeri-negeri Islam di Saparua. Karena itu Belanda sangat tidak senang kepada orang Islam Saparua. Belanda menganggap orang Islam Saparua suka melawan dan sulit untuk ditaklukkan. Belanda selalu berusaha dengan berbagai macam cara untuk menaklukkan Umat Islam Saparua namun selalu gagal karena mendapat perlawanan. Akhirnya dizaman kekuasaan Gujsels Gubernur Ambon yang keenam, kedua kerajaan itu dapat ditaklukkan dengan lebih dulu Belanda mengirimkan bantuan dari Batavia dengan membawa senjata berat dibawah pimpinan Admiral Anthoniasz.
Runtuhnya kedua Kerajaan Islam tersebut karena di samping Belanda mengirimkan pasukan secara besar-besaran ke wilayah itu, juga Belanda dapat memanfaatkan orang-orang yang berhasil dipengaruhi  seperti  Sasabone dari desa Tuhaha  dan Toupessy dari Ullath. Keduanya merupakan kaki tangan Belanda yang sangat berperan dalam mematahkan perlawanan umat Islam Saparua.
Karena itu keduanya mendapat hadiah kutukan dari leluhur Muslim Saparua sehingga keturunan dari kedua marga ini kurang berkembanmg bahkan marga Toupessy jarang dijumpai di Saparua.

Kutukan leluhur Muslim terhadap kedua penghianat tersebut diabadikan dalam kapata atau nyanyian adat  Saparua sebagai berikut:   
 Sasabone kutuke,
 Toupessy tobate,
 puna leka AmaIHAL”

Artinya :
Terkutuklah Sasabone dan Toupessy, Kamu berdualah yang menyebabkan hancurnya Islam Amaihal (Saparua)
Setelah hancurnya pusat dua kerajaan Islam itu, maka sebagai gantinya, Belanda membangun sebuah kota lain di tengah-tengah pulau yang penduduknya telah berhasil dipengaruhi untuk memperkuat dan mempertahankan kekuasaannya. Kota itu, menggunakan nama yang sama dengan nama pulaunya yaitu kota Saparua.
Dengan menguasai seluruh pulau Saparua, Belanda makin meningkatkan praktek Kristenisasi terhadap negeri-negeri Islam serta mengadakan monopoli perdagangan sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Portugis, sehingga membuat masyarakat (kaum muslim) Saparua makin benci terhadap Belanda. Setiap adanya bahaya yang ditimbulkan oleh Belanda yang berupa penindasan dan pemurtadan, seluruh rakyat dari pusat kedua kerajaan Islam tersebut selalu menyingkir kegunung sebagai mana yang pernah dilakukan oleh leluhur mereka di  zaman  pendudukan  Portugis.  Belanda  hanya dapat memurtadkan mereka yang tidak sempat menyingkir dengan cara licik, seperti pemaksaan, penipuan dan lain sebagainya, dengan kata lain Belanda menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.
Keadaan umat Islam Saparua pada saat itu ibarat keluar dari mulut buaya masuk ke mulut harimau. Keadaannya tidak pernah berubah bahkan lebih menderita bila dibandingkan di masa pendudukan Portugis. Umat Islam Saparua makin tidak berdaya, wilayah kekuasaannya dibagi-bagikan kepada mereka yang telah berhasil dipengaruhi, mereka diwajibkan untuk menganut agama yang dibawa Belanda, akibatnya beberapa negeri Muslim berhasil di Kristenkan dengan cara paksa; seperti negeri Ullima di kerajaan Iha yang kemudian dijuluki dengan “Iha Maane Hahu” artinya orang Iha yang mau makan babi, orang Belanda menyebutnya dengan Ihamahu maka sampai sekarang dikenal dengan desa Ihamahu. Disamping berhasil mengkristenkan penduduk Ihamahu, juga berhasil mengkristenkan sebagian dari penduduk negeri  Siri Sori di kerajaan Honimua yang tidak sempat menyingkir ke gunung disaat Belanda memasuki desa tersebut akibatnya penduduk negeri tersebut pecah menjadi dua, sebagian besar penduduk yang mempertahankan ke Islamannya disebut Siri Sori Islam dan sebagian kecil yang berhasil di Kristenkan disebut Siri Sori Sarani (Nasrani). Sedangkan desa Kulur yang merupakan bagian dari kerajaan Iha yang pada mulanya menempati Pia, dipaksa meninggalkan desa mereka untuk menempati daerah kering dan berbatuan disebelah Barat Laut pusat kota kerajaan Iha dengan harapan agar hidup mereka makin menderita akibat dari menolak ajakanpenguasa Belanda untuk menganut agama Kristen. Sedangkan wilayah mereka (Pia) Belanda berikan kepada sebagian kecil penduduk Siri Sori Sarani untuk menempatinya sampai sekarang.
Krestenisasi bukan hanya terhadap umat Islam Saparua tapi juga terhadap Umat Islam pulau Haruku seperti negeri Oma dan Hulaliw. Penduduk Oma yang mempertahankan ke-Islamannya menyingkir ke desa Tulehu pulau Ambon dan disana mereka digabungkan dengan marga / fam Nahumaruli.  Bukan hanya itu saja, desa Wai dan Suli di pulau Ambon tidak luput dari Krestenisasi.

Kesewenang - wenangan Belanda terhadap umat Islam Saparua, menyebabkan mereka mengalami penderitaan yang luar biasa. Maka untuk mempertahankan ke-Islamannya sebagian umat Islam dari wilayah Kerajaan Iha mengungsi ke Seram Barat dan menetap disana sampai sekarang dengan menggunakan nama negeri / desa; Iha dan Kulur, mengambil dari nama negeri kekuasaan  Kerajaan Iha di Saparua. Sedangkan rakyat  Siri Sori dari Kerajaan Honimua menghindar dengan jalan  menyingkir  ke gunung-gunung.
Praktek Kristenisasi di Saparua yang dijalankan Portugis dan dilanjutkan Beland yang dimulai pada tahun 1570 M itu, baru berakhir setelah Indenburg (Gubernur Jederal Hindia Belanda th.1899 - 1906) melaksanakan Politik Etis di tahun 1901. Dengan demikin praktek Kristenisasi di Saparua berjalan selama 330 tahun. Akibatnya jumlah umat Islam Saparua yang pada tahun 1500 M sudah mencapai 99,99 %, merosot tajam hingga tinggal tidak lebih dari 15 %. Maka tidak heran, sebagian orang Islam dan orang Kristen  di Saparua memiliki marga / fam yang sama, seperti; Haulussy, Hehakaya, Holle, Luhulima, Patty, Pelupessy, Sahupala, Saimima, Sopaheluwakan, Sopamena, Toisuta dan lain sebagainya, mereka itu berasal dari satu leluhur Islam dan mereka masih tetap merasa bersaudara dengan lainnya. Ada juga yang bermarga Kesauliya, leluhur mereka pada zaman dahulu beragama Islam yang nama Islamnya ”Kisa Auliya”. Karena pengaruh Belanda ia rela melepaskan mahkota ke-Islam-an yang berupa ikat kepala dengan kain berwarna putih sebagai lambang ke-Islaman ketika itu yang pelepasan tersebut dalam bahasa adat Saparua disebut dengan “Kisyi wuli”. (= terlepas dari kepala) maka mulai saat itu ia tidak lagi dipanggil dengan namanya sendiri (Kisa Auliya’) tetapi nama itu diplesetkan menjadi “Kisyiwuliya” (= terlepas dari kepalanya) Belanda menyebutnya ”Kesauliya”. Julukan tersebut kemudian menjadi nama marga / fam bagi keturunannya.

Copyright @ 2013 GURU AGAMA ISLAM .