Minggu, 25 Mei 2014
PERMATABERITA: SIAPAKAH PENOLONG KITA SEBENARNYA
Posted By:
Agung Wearemania
on 04.43
PERMATABERITA: SIAPAKAH PENOLONG KITA SEBENARNYA: PARA PESERTA DIDIK SMKN 10 YANG TERGABUNG DALAM BDI KHUSUSNYA, DAN UMAT ISLAM PADA UMUMNYA. DALAM MENJALANI HIDUP PADA ERA GLOBALISASI INI ...
Rabu, 23 April 2014
AL MUJADALAH : BERBANGGALAH SISWA SMK
Posted By:
Agung Wearemania
on 19.40
AL MUJADALAH : BERBANGGALAH SISWA SMK: PARA SISWA SMK, KALIAN HARUS BER BANGGA KARENA DALAM FIRMAN ALLAH BERIKUT MEMOTIVASI KITA SEMUA UNTUK MENEJELAJAK MACROCOSMOS DAN MICROCOS...
Sabtu, 22 Maret 2014
LEARNING ME: PERAN GURU DALAM PENDIDIKAN KARAKTER
Posted By:
Agung Wearemania
on 08.54
LEARNING ME: PERAN GURU DALAM PENDIDIKAN KARAKTER: Pendidikan Karakter, Guru adalah pendidik professional yang mempunyai tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,...
Minggu, 09 Februari 2014
Manipulasi Sejarah
Posted By:
HARSA SEVENTY
on 22.45
Kondisi
SDM (Sunber Daya Manusia) Umat Islam Saparua yang sangat rendah, bahkan hampir
tidak ada dikala itu dimanfaatkan Belanda dan kawan-kawannya untuk memanipulasi
peran umat Islam dalam menentang Belanda, seperti:
1.
Nama Ahmad Lussy (Panglima perang Pattimura); yang beragama Islam diganti
dengan Thomas Matulessy yang Kristen.
2. Gelar
Pattimura; yang mestinya pemberian rakyat
yang tertindas kepada semua Komandan / Pemimpin perang dalam menentang
Belanda di Saparua, dikatakan bahwa gelar Pattimura adalah pemberian Belanda
kepada Thomas Matulessy. Bahkan masalah Kristenisasi yang memicu perang melawan
Portugis dan Belanda tidak pernah disinggung samasekali oleh para penulis
sejarah Pattimura yang notabenenya beragama Nasrani. Jelas ini merupakan
manipulasi / pemutarbalikan sejarah, tapi bagaimana
juapun, cepat atau lambat semua itu pasti terungkap juga.
Di sini
penulis akan meluruskan dua masalah tersebut:
Pertama;
Nama Thomas Matulessy; yang betul Thomas Mad Lussy bukan Thomas Matulessy. Kemungkinan sudah mengikuti lidah orang Balanda, Mad Lussy menjadi Matulessy seperti Sapanorua menjadi Saparua, atau salah pengertian terhadap kata-kata yang diucapkan oleh penduduk Siri Sori Islam di saat unjuk rasa ketika Ahmad Lussy di tangkap di desa mereka “Mad-U-lesia” kemudian dirubah menjadi “Matulessy”. Sedangkan nama “Thomas” adalah panggilan terhadap perwira Inggris, karena Ahmad Lussy adalah mantan perwira Inggris ketika pemerintah Inggris berada di Indonesi (1811 – 1816 M) sehingga beliau juga sering dipanggil dengan Thomas Mad Lussy, oleh Belanda dirubah menjadi Thomas Matulessy kemudian ditambah agama Kristen. Perubahan semacam itu tidak hanya terjadi pada Ahmad Lussy saja, tetapi juga terjadi pada diri Srikandi Maluku asal Saparua, dari negeri Kulur, Maryam Tutupoho, namanya diganti dengan Kristina Martatiahahu. Sedih, memang sungguh sedih dengan pemutarbalikan sejarah seperti itu. Arwah keduanya tidak rela dengan dimurtadkan nama mereka setelah berpulang ke hadirat Penciptanya, Tuhan Yang Maha Kuasa. Sayangnya data-data lengkap yang otentik sudah musnah dilalap api ketika kaki tangan Belanda / RMS menyerang dan membumi hanguskan negeri Kulur di Saparua dan Latu di Seram Selatan sekitar tahun 1950-an. Ini adalah usaha Belanda dan kaki tangannya untuk menghilangkan jejak perjuangan umat Islam dalam menentang Belanda di Saparua khususnya dan di Maluku pada umumnya. Sehingga seakanakan perang pada tahun 1817 di Saparuan adalah perang orang Kristen Saparua melawan para penyebar agama Kristen dari Belanda. Padahal, sejarah telah mencatat bahwa kedatangan bangsa-bangsa Eropa kesini adalah didorong oleh disamping untuk mencari kekayaan dan kejayaan / kekuasaan juga mengembang tugas suci menyiarkan agama Nasrani yang dikenal dengan istilah 3G yaitu Gold, Glory dan Gospel. Jadi tidak mungkin Tomas Matulesy dari negeri / desa Haria dan Kristina Martatiahahu dari Nusalaut mengangkat senjata menentang kebijaksanaan saudaranya yang seagama dari Belanda, sebab mereka sampai menjadi penganut agama Kristen yang setia dan taat adalah hasil dari dakwah para misionaris Kristen Belanda lagi pula kesejahteraan mereka selalu diperhatikan, diberi pekerjaan, kedudukan dan jabatan, mereka selalu dimanja dan dianak maskan.
Nama Thomas Matulessy; yang betul Thomas Mad Lussy bukan Thomas Matulessy. Kemungkinan sudah mengikuti lidah orang Balanda, Mad Lussy menjadi Matulessy seperti Sapanorua menjadi Saparua, atau salah pengertian terhadap kata-kata yang diucapkan oleh penduduk Siri Sori Islam di saat unjuk rasa ketika Ahmad Lussy di tangkap di desa mereka “Mad-U-lesia” kemudian dirubah menjadi “Matulessy”. Sedangkan nama “Thomas” adalah panggilan terhadap perwira Inggris, karena Ahmad Lussy adalah mantan perwira Inggris ketika pemerintah Inggris berada di Indonesi (1811 – 1816 M) sehingga beliau juga sering dipanggil dengan Thomas Mad Lussy, oleh Belanda dirubah menjadi Thomas Matulessy kemudian ditambah agama Kristen. Perubahan semacam itu tidak hanya terjadi pada Ahmad Lussy saja, tetapi juga terjadi pada diri Srikandi Maluku asal Saparua, dari negeri Kulur, Maryam Tutupoho, namanya diganti dengan Kristina Martatiahahu. Sedih, memang sungguh sedih dengan pemutarbalikan sejarah seperti itu. Arwah keduanya tidak rela dengan dimurtadkan nama mereka setelah berpulang ke hadirat Penciptanya, Tuhan Yang Maha Kuasa. Sayangnya data-data lengkap yang otentik sudah musnah dilalap api ketika kaki tangan Belanda / RMS menyerang dan membumi hanguskan negeri Kulur di Saparua dan Latu di Seram Selatan sekitar tahun 1950-an. Ini adalah usaha Belanda dan kaki tangannya untuk menghilangkan jejak perjuangan umat Islam dalam menentang Belanda di Saparua khususnya dan di Maluku pada umumnya. Sehingga seakanakan perang pada tahun 1817 di Saparuan adalah perang orang Kristen Saparua melawan para penyebar agama Kristen dari Belanda. Padahal, sejarah telah mencatat bahwa kedatangan bangsa-bangsa Eropa kesini adalah didorong oleh disamping untuk mencari kekayaan dan kejayaan / kekuasaan juga mengembang tugas suci menyiarkan agama Nasrani yang dikenal dengan istilah 3G yaitu Gold, Glory dan Gospel. Jadi tidak mungkin Tomas Matulesy dari negeri / desa Haria dan Kristina Martatiahahu dari Nusalaut mengangkat senjata menentang kebijaksanaan saudaranya yang seagama dari Belanda, sebab mereka sampai menjadi penganut agama Kristen yang setia dan taat adalah hasil dari dakwah para misionaris Kristen Belanda lagi pula kesejahteraan mereka selalu diperhatikan, diberi pekerjaan, kedudukan dan jabatan, mereka selalu dimanja dan dianak maskan.
Jadi bagaimana bisa orang Kristen melawan belanda
sementara mereka mendapat agama Kristen dari Belanda mereka sama sama di gereja dengan pendeta /
pastor orang Belanda, di didik oleh Belanda, mendapat pekerjaan dari Belanda. Sedangkan orang Islam dikejar-kejar, disiksa
dan dipaksa untuk meninggalkan Aqidah mereka ?
Kedua; Gelar Pattimura; Untuk mengetahui apakah gelar Pattimura itu pemberian Belanda atau bukan,
hendaknya lebih dahulu kita tahu arti Pattimura.
Ada dua
pengertian dari Kata Pattimura.
Yang pertama; kata
Pattimura terdiri dari dua kata
yaitu “Patti” yang artinya “Pemimpin” dan “Mura” artinya baik hati. Jadi Pattimura
artinya Pemimpim yang baik hati. Gelar yang sangat mulia itu tidak mungkin diberikan
kepada orang yang dituduh / dijuluki extrimis. Jadi tidak mungkin Belanda memberikan gelar “Pattimura” kepada Thomas Mad Lussy (bukan Thomas Matulessy) Tapi beliau memperolehnya dari
umat Islam Saparua yang tertindas. Gelar yang sangat mulia itu, tidak hanya
diberikan kepada Ahmad Lussy, tetapi juga kepada pemimpim yang lain seperti Sarasa
Sanaky Tepasiwa (Sayyid Perintah) dari Siri Sori Islam dan pemimpin
lainnya. Sebagaimana yang terungkap dalam kapata atau nyanyian
adat berikut ini :
Oiye – oiye, sina oiye,
WALANDA –e- Waisisi lo, sina oiye.
Kapitano PaTtimura WEhe
Tepasiwa-wo,
yami leY-e - Walanda hoka SapanoRua-wo
Artinya :
Maju, ayo
maju, mari kita maju, orang Balanda ada
di Waisisil (di hujung Barat kota Saparua), ayo kita maju. Kapitan Pattimura Tepasiwa (Sayyid Perintah) sudah ada,
mari kita husir orang Belanda keluar dari Saparua.
Nyanyian adat tersebut, digunakan oleh para pejuang
ketika itu untuk menggugah dan membangkitkan
semangat perjuang melawan Belanda di tahun 1817. Dan nyanyian tersebut menunjukkan bahwa gelar Pattimura
adalah pemberian rakyat kepada semua pemimpin perang, dengan demikian jumlah
Pattimura sangat banyak sebanyak pemimpim perang ketika itu. Semua negeri /
desa Islam punya pemimpin perang maka semuanya memiliki beberapa orang
Pattimura. Di pulau Haruku Pattimuranya dari marga / fam Tuasikal dari
negeri Pelawu yang oleh masyarakat Pelawu menyebutnya dengan “Matuwa-lessy”
(orang tua dari marga Tuasikal), di pulau Ambon Pattimuranya bernama Umar
Lesy dari desa Liang, di Siri Sori Islam, Pattimuranya
adalah Sarasa Sanaky Tepasiwa (Sayyid Perinta), di Kulur Pattimuranya
adalah seorang wanita Mariyam
Tutupoho namanya dan masi banyak lagi Pattimura- Pattimura
lainnya.
Pattimura-Pattimura yang tersebar di semua negeri / desa itu, di bawah
komando satu Pattimura yaitu Pattimura Kapten Ahmad Lussy alias Thomas Mad
Lussy dari negeri Latu Seram Selatan, (sekali lagi bukan Thomas Matulessy dari
negeri Haria).
Yang kedua; kata “Pattimura” juga berasal dari kata “Patti-Mula”
artinya “pemimpin pertama” oleh orang Belanda menyebutnya Pattimura karena mereka tidak dapat membedakan antara kata Patti Mula
dan Patti Mura. Gelar yang kedua ini diberikan rakyat Saparua, Haruku, Seram
dan Ambon, khusus kepada Ahmad Lussy tidak kepada yang lain karena beliau
dianggap sebagai orang pertama yang memimpin kelompok-kelompok pejuang yang
datang dari beberapa daerah untuk mengadakan perlawanan terhadap Belanda di th.
1817. Sehingga beliau mendapat dua gelar sekaligus yakni gelar Pattimula dan
Pattimura, gelar tersebut tetap dipertahankan dan dijadikan sebagai fam / marga
oleh anak cucunya sampai sekarang.
Demikian sejarah singkat perjuangan umat Islam menentang kolonial untuk
mempertahankan aqidah Islamiyah di pulau Saparua.
Akhirnya,
kepada umat Islam yang ada di Ambon, Haruku, Saparua dan Seram, yang leluhur
mereka terlibat dalam perang melawan Belanda
di tahun 1817, agar tidak ragu-ragu
atau takut untuk menceriterakan peran mereka dalam menentang
Kolonial untuk mempertahankan Aqidah Islamiyah di Saparua khususnya dan di Maluku pada umumnya yang
selama ini disembunyikan dan diselewengkan oleh Belanda dan kakitangannya.
Sumpah yang pernah diucapkan oleh
para leluhur kita untuk tidak menceriterakan identitas para pejuang di thn 1817
kepada orang yang tidak ada hubungan dara dengannya dan orang-orang yang dicurigai kerja sama dengan Belanda, sudah
tidak berlaku sejak Belanda dan kaki tangannya kehilangan kekuasa di bumi
Nusantara ini.
Sabtu, 08 Februari 2014
AL MUJADALAH : MENGAPA DAN UNTUK APA KITA PERCAYA/IMAN KEPADA KIT...
Posted By:
Agung Wearemania
on 01.23
AL MUJADALAH : MENGAPA DAN UNTUK APA KITA PERCAYA/IMAN KEPADA KIT...: Kitab allah merupakan kumpulan wahyu Allah SWT yang mengandung petunjuk dan kebenaran. Setiap Mukmin wajib percaya kepada seluruh Ki...
Kamis, 30 Januari 2014
LADANG SASTRA SMKN 10 MALANG: MENDAK'WAHKAN KEBENARAN ALA QUR'ANI
Posted By:
NURIL ANWAR
on 16.07
LADANG SASTRA SMKN 10 MALANG: MENDAK'WAHKAN KEBENARAN ALA QUR'ANI: PARA ANGGOTA BDI SMKN 10 MALANG YANG BERBAHAGIA, LEWAT BDI INI SAYA MENYAMPAIKAN BAHWA MENDAKWAHKAN KEBENARAN YANG QUR'ANI ITU ADA 4 PR...
Sabtu, 25 Januari 2014
SUMBER BELAJAR : Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa
Posted By:
Agung Wearemania
on 15.47
SUMBER BELAJAR : Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa: Aktifitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, ka...
Kamis, 23 Januari 2014
Nasihat Sayyidina Ali bin Abu Thalib RA ...
Posted By:
HARSA SEVENTY
on 02.06
"Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan
salam atas Muhammad, Nabi yg ummi; juga kpd keluarga dan para sahabatnya,
sebanyak jumlah apa Yg Engkau ketahui, seindah apa Yg Engkau ketahui, dan
sepenuh apa Yg Engkau ketahui." Aamiin.
Sahabat
2 fillah yang smoga dimuliakanNya.
Ada 40 nasihat dari
Khulafaur Rasyidin keempat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib Radiyallahu Anhu. Yang
berguna bagi kita sebagai renungan dalam menjalani kehidupan & muhasabah
diri. Ke 40 Nasihat itu sebagai berikut :
1.Pendapat seorang yg lebih
tua adalah lebih baik daripada tenaga seorang muda.
2.Menyokong kesalahan
adalah menindas kebenaran.
3.Kebesaran seseorang itu
bergantung dgn qalbunya yg mana adalah sekeping daging.
4.Mereka yg bersifat
pertengahan dlm smua hal tidak akan menjadi miskin.
5.Jagalah ibu-bapamu,
niscaya anak2mu akan menjagamu.
6.Bakhil terhadap apa yg
ditangan adalah tidak mempunyai kepercayaan terhadap Allah.
7.Kekayaan seorang bakhil
akan turun kepada ahli warisnya atau ke angin. Tidak ada yg terpencil dari
seorang yg bakhil.
8.Orang arif lebih baik
daripada kearifannya. Orang jahat lebih jahat daripada kejahatannya
9. Ilmu lebih baik daripada
kekayaan karena kekayaan harus dijaga, sedangakan ilmu akan menjagamu
10.Jagalah harta bendamu
dengan mengeluarkan zakat dan angkatlah kesusahanmu dengan mendirikan shalat
11.Sifat menahan kemarahan
adalah lebih mulia daripada membalas dendam
12.Mengajar adalah belajar
13.Berkhairatlah mengikut
kemampuanmu dan janganlah kau jadikan keluargamu hina dan miskin
14.Insan terbagi kepada 3
golongan :
a) Mereka yang mengenal
Allah
b) Mereka yang mencari
kebenaran
c) Mereka yg tidak
berpengetahuan dan tidak mencari kebenaran.
Golongan yg terakhir inilah
yg paling rendah dan tak baik sekali dan mereka akan ikut sembarang ketua dg
buta seperti kambing.
15.Insan tak akan melihat
kesalahan seseorang yg bersifat tawadhu’ dan lemah
16.Janganlah engkau takut
kpada siapa melainkan dosamu terhadap Allah
17.Mereka yg mencari
kekhilafan dirinya sendiri adalah selamat dari mencari kekhilafan orang lain
18.Harga diri seseorang itu
adalah berdasarkan apa yg ia lakukan untuk memperbaiki dirinya
19.Manusia sebenarnya
sedang tidur tetapi akan bangun bila ia mati
20.Jika kau mempunyai
sepenuh keyakinan akan Al-Haq dan kebenaran, niscaya keyakinanmu tetap tidak
akan berubah walaupun terbuka rahasia2 kebenaran itu.
21.Allah merahmati mereka
yg kenal akan dirinya dan tidak melampaui batas
22.Sifat seseorang
tersembunyi dibalik lidahnya
23.Orang yg membantu adalah
sayapnya orang yg meminta
24.Insan tidur di atas
kematian anaknya, tetapi tidak tidur di atas kehilangan hartanya
25.Barangsiapa yg mencari
apa yg tidak mengenainya niscaya hilang apa yg mengenainya
26.Mereka yg mendengar orang
yg mengumpat terdiri daripada golongan mereka yg mengumpat
27.Kegelisahan adalah lebih
sukar dari kesabaran
28.Seorang yg hamba kepada
syahwatnya adalah seorang yang lebih hina daripada seorang hamba kepada hamba
29.Orang yg dengki marah
kepada orang tidak berdosa
30.Putus harapan adalah
satu kebebasan, mengharap (kepada manusia) adalah suatu kehambaan
31.Sangkaan seorang yg
berakal adalah suatu ramalan
32.Seorang akan mendapat
tauladan di atas apa yang dilihat
33.Taat kepada perempuan
(selain ibu) adalah kejahilan yg paling besar
34.Kejahatan itu
mengumpulkan kecelaan yang memalukan
35.Jika berharta,
berniagalah karena Allah dengan bersedekah
36.Janganlah engkau lihat
siapa yg berkata tetapi lihat apa yg dikatakannya
37.Tidak ada percintaan dengan
sifat yang berpura2
38.Tidak ada pakaian yg
lebih indah daripada keselamatan
39.Kebiasaan lisan adalah
apa yg telah dibiasakannya
40.Jika engkau telah
menguasai musuhmu, maafkanlah mereka, karena perbuatan itu adalah syukur kepada
keberhasilan yg telah kau peroleh.
Baca Selengkapnya
(http://al-syahbana.blogspot.com) - TAMPILKAN SELALU LINK SUMBER :
http://al-syahbana.blogspot.com/2013/09/40-kutipan-nasehat-ali-bin-abi-thalib.html#ixzz2rDIwd8C4
Rabu, 22 Januari 2014
PECAHNYA PERANG TAHUN 1817 DI SAPARUA
Posted By:
HARSA SEVENTY
on 22.32
Para mujahidin
sedang berdoa secara Islam setelah merebut
benteng durstede
Praktek Kristenisasi yang dijalankan Balanda di Saparua
sampai tahun 1817, sangat dirasakan oleh seorang Ulama, penyiar agama Islam di
wilayah Seram Selatan dan Saparua, mantan perwira angkatan perang Inggeris
dengan pangkat Kapten, putra Latu yang lebih dikenal dengan panggilan Mad Lussy, nama lengkapnya Ahmad
Lussy yang pada saat itu berada di Latu, Seram Selatan. Beliau
menerima informasi mengenai perkembangan Kristenisasi tersebut dari seorang teman
yang berasal dari desa Titawai pulau Nusalaut, bermukim di Saparua, Thomas Hehanusa namanya,kemudian
diganti dengan Sinene Hehanusa
setelah menjadi seorang muslim lalu hijrah ke Latu untuk berjihad melawan
Belanda dan mendapat gelar kapitan Latuleanusa. Beliau (Thomas Hehanusa) juga
menginformasikan kristenisasi di Saparua kepada Umar Lesy di pulau Ambon dan Matualesy di pulau Haruku.
Demi mempertahankan aqidah Islamiyah di bumi Saparua, Umar Lesy,
Matualesy dan Ahmad Lussy mengumpulkan kekuatan pasukan di daerah masing-masing
agar segera mengadakan penyeberangan ke Saparua untuk bergabung dengan para
mujahid di pulau tersebut guna mengadakan perlawanan terhadap Belanda demi
mempertahankan Aqidah Islam di Bumi Saparua.
Pasukan dari Ambon dan Haruku masuk pulau Saparua melalui
hutan Porto, di sana mereka menghancurkan sebuah pos Belanda yang ada
ditempat itu kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kota Saparua melewati
Waisisil, sedangkan pasukan yang dipimpin Ahmad Lussy menyeberang ke Saparua
melalui pantai Kohu yang terletak di dusun Pia sekarang. Dari Kohu mereka (Ahmad Lussy bersama pasukan) menuju
Kota Saparua melalui gunung Saniri. Di gunung ini sekitar jam 12.30
waktu setempat, mereka merebut sebuah pos Belanda, penjaganya dibunuh kemudian
dicincang-cincang, karenanya gunung tersebut dinamakan gunung Farkadel (peristiwa
itu terjadi pada hari Rabu 14 Mei 1817 M bertepatan dengan 27 Jumadil Akhir 1232 H). Ahmad
Lussy bersama pasukan meneruskan perjalanan menuju Kota Saparua yang ketika itu
menjadi pusat pertahanan Belanda. Sesampainya di sana, pasukan Ahmad Lussy,
Umar Lesy dan Matualesy segera bergabung untuk mengadakan pertemuan dengan
kelompok mujahidin setempat pimpinan Sarasa Sanaky Tepasiwa yang dikenal dengan panggilan “Sayyid Perintah” = tuan pemimpin (karena beliau adalah satu
satunya pemimpin yang memerintah pasukan untuk menyerang pertahanan Belanda
dari arah Siri Sori Islam). Dalam pertemuan tersebut mereka sepakat untuk mengadakan
serangan kepusat kekuasaan Kolonial Belanda di Benteng Duurstede pada hari Jum’at 16 Mei 1817 M / 29 Jumadil
Akhir 1232 H, serta menunjuk Ahmad Lussy sebagai panglima perang. Maka dengan pengalaman beliau sebagai mantan Perwira Angkatan Perang Tentara
Inggris, seusai shalat Jum’at memimpin pasukan untuk segera mengepung dan
menyerang pertahanan Belanda. Setelah benteng
terkepung, Ahmad Lussy masuk ke dalam benteng dengan cara memanjat tembok
benteng pojok Selatan (arah pantai), setelah berhasil masuk, segera membuka
pintu gerbang, maka dengan ucapan kalimat Takbir “ALLAHU AKBAR”
serta memiliki semangat jihat yang tinggi ditambah dengan rasa bencinya
terhadap Belanda, para pejuang serentak menyerbu benteng pertahanan Belanda dan
membunuh semua tentara Belanda yang diperkirakan sekitar 30 orang termasuk Residen Van den Berg yang ketika itu berada
dalam Benteng kecuali seorang anak perempuan yang masih berusia sekitar 8
tahun, dibiarkan hidup.
Peristiwa penyerbuan tersebut membuat Belanda menjadi kacau, maka untuk
menghentikan perlawanan, Belanda mendatangkan bantuan dari Ambon dan Jakarta untuk mematahkan
perlawanan rakyat dan memblokir semua jalur masuk ke Saparua, akhirnya pada bulan Agustus 1817 M
/ Syawal 1232 H, benteng Durstede di
Saparua dapat direbut kembali oleh Belanda. Dengan demikian Belanda
menjadi makin kuat dan pada bulan Oktober 1817 M /
Dzulhijjah 1232 H pasukan Belanda secara besar-besaran menyerbu
pertahanan para pejuang, sehingga mereka semakin terdesak, akibatnya banyak
pejuang yang tertangkap dan terbunuh sedangkan Ahmad Lussy dan Sarasa Sanaky
Tepasiwa (Sayyid Perinta) dapat meloloskan diri dan bersembunyi di beberapa
negeri (bukan di puncak gunung Booi) di Saparua dengan cara berpindah-pindah.
Untuk menghilangkan jejak, mereka sering berganti-ganti nama dan fam serta mengaku sebagai warga
negeri / desa dimana mereka bersembunyi. Namun karena penghianatan raja Booi
(Kristen) dan tipu muslihat Belanda akhirnya Ahmad Lussy tertangkap ketika
bersembunyi di Siri Sori Islam (sekali lagi bukan di puncak gunung Booi).
Sedangkan Sarasa (Sayyid Perinta) dapat meloloskan diri (ia meninggal dunia di Siri Sori Islam karena
sakit dan dikuburkan di dusun Salaiku pada th 1825).
Sebagai rasa tidak setuju atas penangkapan Ahmad
Lussy, penduduk Siri Sori Islam secara
serentak turun kejalan, unjuk rasa, protes terhadap
Belanda sambil berteriak “Mad-U-lesia,
Mad-U-lesia, Mad-U-lesia”. Kalimat ini
memiliki dua arti yaitu “bersama Mad
kita pasti menang” dan bisa juga berarti “Mad, hancurkan mereka (orang Belanda)”. Ahmad Lussy dibawa ke
Saparua kemudian pada hari Kamis 18
November 1817 M / 24 Muharam 1233 H diangkut ke Ambon bersama pejuang
lainnya, dengan kapal Evertsen dan tiba di Ambon pada hari Ahad 21 November
1817 M / 27 Muharam 1233 H. Kemudian pada Selasa 23 November 1817, bertepatan
dengan 29 Muharam 1233 H, Komisaris Jenderal untuk Hindia Belanda, pada waktu
itu ialah Schout bij Nacht Arnold Adriaans Buyskes, mengeluarkan surat
keputusan untuk menyerahkan Para pejuang yang telah tertangkap kehadapan Raad
van Justitie, pengadilan Belanda di Ambon dan divonis Hukum mati oleh Raad van
Justitie. Eksekusi dilaksanakan pada hari Selasa, 16 Desember 1817 M / 6 Safar 1233
H, dan Ahmad Lussy bersam kawan-kawannya gugur sebagai syuhada. Semoga
arwah mereka diterima disisi Yang Maha Kuasa.
Amin.
Tertangkapnya
Ahmad Lussy bersama kawan-kawannya, membuat Belanda makin meningkatkan tindakan
keras. Intimidasi serta praktek Kristenisasi
terhadap umat Islam lebih gencar lagi. Akibatnya
mengalami penderitaan yang luar biasa. Bukan hanya lahir saja yang menderita
tetapi batinpun dibuat menderita pula. Sedangkan mereka yang berhasil
dipengaruhi / dimurtadkan mendapat perlakuan yang sangat istimewa, diberi
kedudukan dan jabatan serta pasilitas pendidikan yang memadai untuk
meningkatkan pendidikan mereka.
Semua sarana pendidikkan
berada di koloni Kristen.
Perlakuan semacam itu tidak pernah diperoleh umat Islam
pada masa itu karena umat Islam tidak bisa diajak kerja sama. Situasi
seperti itu berjalan terus sampai adanya perubahan polotik di Negeri Belanda
yaitu golongan Konservatif yang selama ini menguasai pemerintahan serta
kebijaksanaannya yang selalu menyengsarakan penduduk negara jajahannya, mengalami
kekalahan dari golongan Liberal. Golongan yang menang inilah yang memberi
kebebasan bagi pendudk negeri jajahan dalam segala bidang termasuk bidang
pendidikan. Kebijakan tersebut dikenal dengan Politik Etis / Politik Balas
budi. Politik tersebut dilaksanakan oleh Indenburg sebagai Gubernur
Jenderal Hindia Belanda, (namun tetap menguntungkan Belanda). Maka mulai saat
itu anak-anak orang Islam Saparua untuk pertamakalinya diterima sebagai siswa
sekolah-sekolah umum milik pemerintah Belanda namun hanya terbatas bagi
anak-anak raja dan anak-anak orang yang dapat diajak kerja sama dengan Belanda.
Maka tidak heran di awal kemerdekaan Indonesia sumber daya manusia (SDM) umat
Islam Saparua sangat rendah. Umat Islam ketika itu yang dapat membaca dan menulis
huruf latin diperkirakan tidak lebih dari 0,02 % saja, 75 % dari mereka yang dapat membaca huruf
latin itu hanya lulusan Volks School (SR 3 th,) sedangkan 20 % lulusan HIS =
Hollands Inlandsche School (Sekolah Dasar 6 th.) dan yang 5% lagi lulusan MULO
(SMP).
Tenaga pendidik di sekolah-sekolah umum mulai dari
Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Lanjutan Atas di awal kemerdekaan, adalah
mereka yang beragama Nasrani, bahkan Universitas Pattimura satu satunya
Universitas milik pemerintah
di Kota Ambon, tenaga pengajarnya didominasi oleh mereka
yang beragama Nasrani karena merekalah yang memiliki SDM (Sumber Daya Manusia)
yang memadai yang merupakan warisan pembinaan Kolonial Belanda
Langganan:
Komentar (Atom)
